Jumat, 10 Juni 2016

Kalyla (Cerpen dari Pojok Pesantren)



Kalyla

Oleh: Arif Subekti; 1/3/2010-11:18 PM

Kalyla membetulkan posisi headset bandonya, sembari  menggumamkan reff lagu yang ia setel lewat laptopnya. Matahari akan segera melewati waktu afdhal dluha, dan mahasiswi semester akhir fakultas sastra ini masih saja menghabiskan hari dengan bermalas-malasan di depan layar flatron 14 inci. Sebenarnya, santriwati senior ini berencana menyelesaikan proposal skripsi yang telah tertunda tanpa sebab berarti, sejak awal semester lalu; namun ikhtiarnya untuk segera meraih gelar sarjana itu luruh oleh rasa malas yang menginfeksi semangatnya. Mendung yang tebal di hari senin itu, membuatnya enggan berangkat ke kampus, bahkan ia juga segan untuk sekadar keluar dari kamarnya.
Kalyla sekarang memang sudah bukan gadis kecil manja yang hampir selalu menuntut kado ultah dari ketiga abangnya, atau cewek usia belasan yang menggemari novel teenlit (teens literary) dan berbagai aksesoris muda-mudi yang sedang trend. Namun, meski umur Kalyla sudah menuju hitungan seperempat abad, di mana indeks kedewasaan relatif bisa diukur dari situ; Kalyla justru banyak mengalami kemunduran dalam statutanya sebagai mahasiswa sekaligus santri. Banyak amaliah sarat pahala yang dahulu menjadi wadzifahnya (kebiasaannya), sekarang justru tanggal satu demi satu. Rangkaian shalat witir, tahajjud dan tasbih yang selama beberapa tahun menjadi teman Kalyla ber-saharul layali, sekarang tergantikan oleh triumvirat piranti canggih bernama nokia, toshiba dan sturdy. Bahkan ketika petugas tarhim mengumandangkan ajjilu bi as-sholati qobla al-fawt, alam bawah sadar Kalyla yang tengah tidur mengidentifikasikan seruan menuju kebaikan tersebut sebagai jerit tengah malam dalam satu episode mimpi buruk.
Sesungguhnya Kalyla sadar, betapa impresifnya pengalaman ngabuburit di senin dan kamis sore yang lama ia tinggalkan, seakan ada eksponen tubuhnya yang tercerabut dari asal batang wadagnya. Gadis muda yang dahulu kerap menjadi tempat bertanya bagi para juniornya itu kadang menyesali betapa hari-harinya didominasi aktivitas kurang bermanfaat dan tidak berguna; bahkan Kalyla merasa terlampau sibuk untuk memburu saat-saat kesendirian demi meluangkan waktu tadarrus dan memuthala’ah pelajarannya. Penggal demi penggal hafalannya tercecer hilang; mulai amma yatasaa’aluun – hingga mu’awidzatayn, i’lal, tashrif, judul kitab dan buku beserta pengarangnya, hadits, nadham, periodesasi sejarah, dan lainnya; dan digantikan dengan hafalan lirik lagu pop domestik serta manca yang mendayu.
Entah bentuk kedurhakaan apa yang menjadikan Kalyla, alih-alih menemui kemajuan dalam dirinya, sebagaimana prinsip progresivitas hidup sesuai atsar dari Sahabat Ali RA, bahwa saat ini harus lebih baik dari masa kemarin pun masa yang akan datang harus lebih baik daripada saat ini; justru kemunduran demi kemunduran menyeranta langkah Kalyla melanjutkan hidup. Tak hanya dalam perkara ubudiyah, dalam hal akademis prestasi Kalyla juga berjalan mundur. Sementara ia belum juga memperbaharui rekor pribadinya menghatamkan 30 jus Al-Qur’an, Kalyla juga gagal menambah tabungan bacaannya; meskipun dalam satu minggu, mantan aktivis kampus ini cuma menempuh 4 sks dalam 4 jam kuliah. Padahal, sebagaimana yang ia dapat dalam mata kuliah pengantar dulu, bahwa kekuatan seorang sastrawan adalah membaca, membaca, membaca, dan menulis, baru kemudian berbicara. Kalyla ingat betul, waktu itu dosennya mengutip ucapan Bung Karno yang menyatakan bahwa untuk menjadi pemimpin yang baik (good leader), seseorang harus menjadi pemikir yang brilian, penulis yang bagus, serta menjadi pembicara dengan kemampuan oratori mumpuni (good thinker, good writer, good speaker).
-::-::-::-
Setelah cukup lama memicingkan netra di depan layar laptopnya, mata Kalyla akhirnya lelah juga. Tak terasa, jam digital di pojok kanan bawah monitornya sudah menunjukkan pukul satu lebih tigalima; berarti kurang lebih lima jam Kalyla sudah menyianyiakan rizki waktu dan kesempatan dengan bermain-main. Kalyla lantas berdiri, melepas headset yang seakan sudah melekat di daun kupingnya. Ia melemparkan pandangannya ke arah beranda kamarnya, terlihat mendung menghitamkan cakrawala, dan dingin yang menusuk tulang melengkapi hujan yang turun dengan derasnya.
Kalyla menggapai handuk yang menggantung di tembok seraya menggamit wadah sabun mandinya. Saat hendak menuruni tangga, sepintas ia melihat dua santriwati junior tetangga kamarnya yang sepertinya baru saja pulang kuliah, berlarian menyelamatkan beberapa potong pakaian dari jemuran. Kalyla sebenarnya ingin berbasa-basi, menanyakan perihal yang membuat mereka nampak hilir mudik dan kelihatan lucu; namun niatan nggojloki  itu segera tenggelam karena santriwati yang satu terlebih dahulu menyuguhkan senyum sinis. “Salahku opo, Nduk?” batin Kalyla.
Sesampainya di lantai bawah, Kalyla segera mengurungkan niatnya untuk bersih diri di kamar mandi depan. Di muka pintu kamar mandi yang sedianya ia gunakan, terlihat barisan santriwan dan santriwati tengah menguras air setinggi lutut yang membanjiri kamar putri blok paling dasar. Secepat kilat, Kalila membalikkan badan dan berjalan setengah berlari menuju kamar mandi atas. Ia sebenarnya bingung, mengapa ia harus menghindari kegiatan ro’an (kerja bakti) yang mencerminkan sense of belonging tersebut. Mungkin Kalyla malu, mungkin juga sungkan, atau justru ia merasa malas bercampur jijik, untuk turun tangan menolong saudara-saudaranya seatap guna menghalau derasnya air hitam kecoklatan yang meluap dari got.
Dalam perjalanan melarikan diri itu, Kalyla setengah berpikir bahwa sikap apatis inilah yang besar kemungkinan menjadikannya merasa tidak berguna, membuat hati dan otaknya mati rasa. Kalyla meretrospeksi perilakunya selama beberapa waktu terakhir, bahwa betapa dirinya telah banyak meremehkan amaliah sunah cum gemar mengerjakan perkara makruh. Padahal, sebagaimana yang berkali-kali disampaikan pengasuh pesantrennya, seorang abid tidak akan berhenti mengerjakan perkara sunah dalam usaha taqarrub, hingga Allah mencintainya serta menjadi pendengaran, penglihatan, dan tangan bagi si abid. Laa yazaalu al-‘abdu an-yataqarraba ilayya bi an-nawafil illa uhibbuhu, wa idzaa ahbabtuhu kuntu lahu sam’an wa bashaaran wa yaddan. Sampai di sini, Kalyla lantas meneguhkan tekad untuk tajdidun niyat (memperbaharui niat), untuk kembali rajin mengerjakan sunah sehingga kewajibannya sebagai mukallaf tidak keteteran, untuk menjaga diri dari kebiasaan makruh sehingga secara otomatis ia terjaga dari keharaman. Selain ibadah individual, Kalyla juga secara bertahap hendak melengkapi niatan baiknya itu dengan ibadah sosial karena al-muta’addi afdhaalu min al-qashir.
So, setelah shalat dluhur nanti, gadis ini meneguhkan hati untuk menyumbangkan sebagian tenaganya untuk ikut ro’an di lantai bawah yang kebanjiran; entah dengan kekuatan lengannya yang kecil, entah dengan membuatkan kopi, atau sekedar nyuporteri. Bismillah.
-::-::-::-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar