Kalyla
Oleh: Arif Subekti; 1/3/2010-11:18
PM
Kalyla membetulkan posisi
headset bandonya, sembari menggumamkan
reff lagu yang ia setel lewat laptopnya. Matahari akan segera melewati waktu
afdhal dluha, dan mahasiswi semester akhir fakultas sastra ini masih saja menghabiskan
hari dengan bermalas-malasan di depan layar flatron 14 inci. Sebenarnya,
santriwati senior ini berencana menyelesaikan proposal skripsi yang telah tertunda
tanpa sebab berarti, sejak awal semester lalu; namun ikhtiarnya untuk segera meraih
gelar sarjana itu luruh oleh rasa malas yang menginfeksi semangatnya. Mendung
yang tebal di hari senin itu, membuatnya enggan berangkat ke kampus, bahkan ia
juga segan untuk sekadar keluar dari kamarnya.
Kalyla
sekarang memang sudah bukan gadis kecil manja yang hampir selalu menuntut kado
ultah dari ketiga abangnya, atau cewek usia belasan yang menggemari novel
teenlit (teens literary) dan berbagai aksesoris muda-mudi yang sedang
trend. Namun, meski umur Kalyla sudah menuju hitungan seperempat abad, di mana
indeks kedewasaan relatif bisa diukur dari situ; Kalyla justru banyak mengalami
kemunduran dalam statutanya sebagai mahasiswa sekaligus santri. Banyak amaliah sarat pahala
yang dahulu menjadi wadzifahnya (kebiasaannya), sekarang justru tanggal satu demi satu.
Rangkaian shalat witir, tahajjud dan tasbih yang selama beberapa tahun menjadi
teman Kalyla ber-saharul layali, sekarang tergantikan oleh triumvirat piranti
canggih bernama nokia, toshiba dan sturdy. Bahkan ketika
petugas tarhim mengumandangkan ajjilu bi as-sholati qobla al-fawt, alam
bawah sadar Kalyla yang tengah tidur mengidentifikasikan
seruan menuju kebaikan tersebut sebagai jerit tengah malam dalam satu episode mimpi buruk.
Sesungguhnya
Kalyla sadar, betapa impresifnya pengalaman ngabuburit di senin dan kamis sore
yang lama ia tinggalkan, seakan ada eksponen tubuhnya yang tercerabut dari
asal batang wadagnya. Gadis muda yang dahulu kerap menjadi tempat bertanya bagi para
juniornya itu kadang menyesali betapa hari-harinya didominasi aktivitas kurang
bermanfaat dan tidak berguna; bahkan Kalyla merasa terlampau sibuk untuk
memburu saat-saat kesendirian demi meluangkan waktu tadarrus dan memuthala’ah
pelajarannya. Penggal demi penggal hafalannya tercecer hilang; mulai amma
yatasaa’aluun – hingga mu’awidzatayn, i’lal, tashrif, judul kitab dan buku
beserta pengarangnya, hadits, nadham, periodesasi
sejarah, dan lainnya; dan digantikan dengan hafalan lirik lagu pop domestik
serta manca yang mendayu.
Entah
bentuk kedurhakaan apa yang menjadikan Kalyla, alih-alih menemui kemajuan dalam
dirinya, sebagaimana prinsip progresivitas hidup sesuai atsar dari Sahabat
Ali RA, bahwa saat ini harus lebih baik dari masa kemarin pun masa yang akan
datang harus lebih baik daripada saat ini; justru kemunduran demi kemunduran
menyeranta langkah Kalyla melanjutkan hidup. Tak hanya dalam perkara ubudiyah,
dalam hal akademis prestasi Kalyla juga berjalan mundur. Sementara ia belum juga
memperbaharui rekor pribadinya menghatamkan 30 jus Al-Qur’an, Kalyla juga gagal
menambah tabungan bacaannya; meskipun dalam satu minggu, mantan aktivis kampus ini
cuma menempuh 4 sks dalam 4 jam kuliah. Padahal, sebagaimana yang ia dapat
dalam mata kuliah pengantar dulu, bahwa kekuatan seorang sastrawan adalah
membaca, membaca, membaca, dan menulis, baru kemudian berbicara. Kalyla ingat betul,
waktu itu dosennya mengutip ucapan Bung Karno yang menyatakan bahwa untuk
menjadi pemimpin yang baik (good leader), seseorang harus menjadi
pemikir yang brilian, penulis yang bagus, serta menjadi pembicara dengan
kemampuan oratori mumpuni (good thinker, good writer, good speaker).
-::-::-::-
Setelah
cukup lama memicingkan netra di depan layar laptopnya, mata Kalyla akhirnya lelah
juga. Tak terasa, jam digital di pojok kanan bawah monitornya sudah menunjukkan
pukul satu lebih tigalima; berarti kurang lebih lima jam Kalyla sudah menyianyiakan
rizki waktu dan kesempatan dengan bermain-main. Kalyla lantas berdiri,
melepas headset yang seakan sudah melekat di daun kupingnya. Ia melemparkan
pandangannya ke arah beranda kamarnya, terlihat mendung menghitamkan cakrawala,
dan dingin yang menusuk tulang melengkapi hujan yang turun dengan derasnya.
Kalyla
menggapai handuk yang menggantung di tembok seraya menggamit wadah sabun
mandinya. Saat hendak menuruni tangga, sepintas ia melihat dua santriwati
junior tetangga kamarnya yang sepertinya baru saja pulang kuliah, berlarian
menyelamatkan beberapa potong pakaian dari jemuran. Kalyla sebenarnya ingin
berbasa-basi, menanyakan perihal yang membuat mereka nampak hilir mudik dan
kelihatan lucu; namun niatan nggojloki
itu segera tenggelam karena santriwati yang satu terlebih dahulu
menyuguhkan senyum sinis. “Salahku opo, Nduk?” batin Kalyla.
Sesampainya
di lantai bawah, Kalyla segera mengurungkan niatnya untuk bersih diri di kamar
mandi depan. Di muka pintu kamar mandi yang sedianya ia gunakan, terlihat
barisan santriwan dan santriwati tengah menguras air setinggi lutut yang
membanjiri kamar putri blok paling dasar. Secepat kilat, Kalila membalikkan badan dan
berjalan setengah berlari menuju kamar mandi atas. Ia sebenarnya bingung,
mengapa ia harus menghindari kegiatan ro’an (kerja bakti) yang mencerminkan sense of belonging tersebut. Mungkin Kalyla malu, mungkin
juga sungkan, atau justru ia merasa malas bercampur jijik, untuk turun tangan menolong
saudara-saudaranya seatap guna menghalau derasnya air hitam kecoklatan yang meluap dari got.
Dalam
perjalanan melarikan diri itu, Kalyla setengah berpikir bahwa sikap apatis
inilah yang besar kemungkinan menjadikannya merasa tidak berguna, membuat hati
dan otaknya mati rasa. Kalyla meretrospeksi perilakunya selama beberapa waktu
terakhir, bahwa betapa dirinya telah banyak meremehkan amaliah sunah cum
gemar mengerjakan perkara makruh. Padahal, sebagaimana yang berkali-kali
disampaikan pengasuh pesantrennya, seorang abid tidak akan berhenti mengerjakan
perkara sunah dalam usaha taqarrub, hingga Allah mencintainya serta menjadi
pendengaran, penglihatan, dan tangan bagi si abid. Laa yazaalu al-‘abdu
an-yataqarraba ilayya bi an-nawafil illa uhibbuhu, wa idzaa ahbabtuhu kuntu
lahu sam’an wa bashaaran wa yaddan. Sampai di sini, Kalyla lantas
meneguhkan tekad untuk tajdidun niyat (memperbaharui niat), untuk
kembali rajin mengerjakan sunah sehingga kewajibannya sebagai mukallaf tidak
keteteran, untuk menjaga diri dari kebiasaan makruh sehingga secara otomatis ia
terjaga dari keharaman. Selain ibadah individual, Kalyla juga secara bertahap
hendak melengkapi niatan baiknya itu dengan ibadah sosial karena al-muta’addi
afdhaalu min al-qashir.
So,
setelah shalat dluhur nanti, gadis ini meneguhkan hati untuk menyumbangkan sebagian
tenaganya untuk ikut ro’an di lantai bawah yang kebanjiran; entah dengan
kekuatan lengannya yang kecil, entah dengan membuatkan kopi, atau sekedar
nyuporteri. Bismillah.
-::-::-::-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar