Filsafat Manusia Indonesia
Oleh: Arif Subekti; 29/02/2012-04:13 PM
A.
Mukaddimah
Alhamdulillah,
segala puji hanya untuk Allah Yang Maha Menciptakan dan Yang Maha Menghimpun,
semoga di awal bulan Rabi’ul Akhir yang indah ini, segenap umat muslim
dianugerahi iman yang sempurna, keyakinan yang benar, lisan yang senantiasa
menyebut asma-Nya, serta kalbu yang khusyu’. Shalawat dan salam, yang
senantiasa menghiasi istighotsah-istighotsah, wirid ba’da maktubah, serta aneka
ibadah; kiranya menjadi do’a sekaligus penanda kecintaan kita pada Rasulullah
Muhammad SAW. Semoga tsawab barokahnya meliputi kita semua, keluarga, murabbi
ruwhinaa, ahlul ma’had, serta jama’ah subuh sedunia. Allaahumma barrik
ummata sayyidinaa Muhammad, fiy bukuwrihaa. Amin.
Pada sela
kesibukan dan kekosongan yang gilir gumanti, alhamdulillah kami mendapat
kesempatan untuk mempresentasikan salah
satu materi halaqoh yang berjudul Dasar Perumusan Filsafat Manusia Indonesia. Secara
sepintas lalu, dapat diketahui bahwa pembahasan kali ini termasuk pembahasan filsafat,
yakni ilmu tentang mengetahui kebenaran yang hakiki. Pengetahuan ini sangat
penting, mengingat mempelajari filsafat manusia, dapat membantu setiap orang
yang mempelajarinya untuk lebih mengenali diri. Secara mudahnya, mengetahui dan
memahami filsafat manusia Indonesia, diharapkan mampu menambah kecerdasan individual
dan kesalehan sosial dalam melakukan analisis terhadap segala gejala dan
kejadian di masyarakat.
Merupakan
hal yang lumrah, wajar, dan niscaya; bagi saya, anda, dan mereka; yang merasa
diri sebagai manusia Indonesia, untuk mengerti (enklaren) serta memahami
(verstehen) filsafat manusia Indonesia, sesuai dengan konsensus para
pendiri negara (founding fathers) yang terumuskan dalam Pancasila. Filsafat
manusia atau antropologi filsafati merupakan bagian integral dalam sistem
filsafat, yang secara spesifik menyoroti hakikat atau esensi manusia. Frasa ini
kemudian disifati dengan kata “indonesia”, suatu kesatuan politik dalam sejarah
panjang yang kemudian membentuk frasa baru, “bangsa Indonesia” secara majemuk,
dan “manusia Indonesia” secara individu.
Akan
halnya menelisik dasar perumusan filsafat manusia indonesia, yang
dimensi-dimensinya dalam risalah ini dikaji secara diakronis dan sinkronis.
Sebagai langkah awal, pendedahan definisi mengenai filsafat manusia dan
Indonesia, baik secara operasional, maupun leksikal-gramatikal sesuai dengan
semangat zaman (zeit geist) saat ini, kami paparkan. Selanjutnya, perihal dasar
perumusan filsafat manusia Indonesia, berikut stereotipe manusia Indonesia dari
beberapa ahli, kami jajarkan sehingga hakikat manusia Indonesia menjadi lebih
kentara. Pada ujung risalah, kami cantumkan beberapa simpulan (sementara) yang
diharapkan tidak menjumudkan kreativitas berpikir. Semoga tulisan ringkas ini
bermanfaat. Amin
B.
Pembahasan
1. Definisi
a.
Filsafat
Manusia
Filsafat
manusia adalah suatu cabang dari filsafat yang mengupas tentang arti menjadi
manusia, maksudnya bahwa filsafat manusia ialah usaha secara sistematis untuk
mengetahui dan memahami hakekat manusia yang berdiri sendiri dalam dunianya,
serta mempelajari fungsi keberadaannya di dunia.[1]
Falsafah Jawa mengenal istilah kawruh sangkan paraning dumadi nira (the
origin and the destination of all creatures), yang terjemahan bebasnya
berarti mengetahui asal kejadian (sangkan) dan tujuan dijadikan (paran);
kemudian kesimpulan retoris ini berhulu dan bermuara pada Tuhan Yang Esa, Allah
Subhanhu Wa Ta’ala (inna liLlahi wa inna ilaihi raaji’uwn), atau dalam budaya
Jawa, Gusti Kang Persipatan Tan Kena Kinaya Ngapa, yakni awal segala
ihwal, absolut, serta Tan Kena Winirasa, yakni tak dapat direka-reka.[2]
Filsafat manusia
termasuk dalam kajian ontologi atau metafisika, dimana objek materialnya adalah
sama dengan ilmu-ilmu tentang manusia (misalnya antropologi dan psikologi)
lainnya, yakni gejala manusia. Baik filsafat manusia maupun ilmu-ilmu tentang
manusia, pada dasarnya bertujuan untuk menyelidiki, menginterpretasi, dan
memahami gejala-gejala atau ekspresi-ekspresi manusia.[3]
Kemudian,
beberapa filsuf menggolongkan dua aspek dalam memahami hakekat manusia, yaitu: aspek
ekstensif, meliputi pembahasan hakekat manusia yang berhubungan dengan sifat, gejala,
kegiatan, dan segala sesuatu yang meyangkut pada segala bidang. Kemudian aspek intensif,
meliputi pembahasan yang mengarah pada intisari dari manusia.[4]
b.
Manusia
Indonesia
Adalah
Adolf Bastian, seorang dokter dan sekaligus etnolog kebangsaan Jerman, yang memopulerkan
nama Indonesia ketika menerbitkan laporan perjalanan dan penelitiannya di
Berlin, yang diterbitkan dalam karya 5 jilid (1864 – 1894) dengan judul Indonesien,
oder die Inseln des malaysischen Archipels (Indonesia, atau Pulau-Pulau
dari Kepulauan Malaya).
Secara
literal, kata Indonesia berasal dari kata latin: indus/ endos
yang berarti Hindia dan kata nesos yang berarti pulau, (nesioi-jamak
berarti pulau-pulau). Dengan demikian, kata Indonesia berarti pulau-pulau
Hindia. Indonesia dikenal pula dengan sebutan Nusantara. Kata Nusantara berasal
dari bahasa Jawa Kuno, yaitu nusa yang berarti pulau dan antara
yang berarti hubungan. Jadi, Nusantara berarti rangkaian pulau-pulau.
Indonesia
dalam pengertian geografis berarti bagian bumi yang membentang dari 95°-141°
Bujur Timur, dan 6° Lintang Utara sampai 11 Lintang Selatan. Sedangkan
Indonesia dalam arti bangsa yang secara politik, ekonomi, dan sosial budaya
dalam wilayah tersebut. Negara ini sendiri merupakan kesatuan bekas jajahan Kerajaan Belanda, hingga tahun 1945 menurut versi Indonesia atau tahun 1949
menurut versi Belanda. Sehingga manusia Indonesia dalam pembahasan ini, ialah
penghuni bagian bumi Indonesia, yang terdiri atas lebih dari 300 kelompok etnik
atau suku bangsa, adat istiadat, agama, serta budaya.
c.
Filsafat
Manusia Indonesia
Batasan
atau definisi operasional mengenai filsafat manusia Indonesia, dalam tulisan
ini ialah usaha mengetahui dan memahami esensi, hakikat, atau struktur dasar manusia
penghuni wilayah negara Indonesia, yang meliputi aspek-aspek morfologis manusia
Indonesia, dimensi-dimensi budayanya, serta nilai-nilai yang berlaku dalam
wilayah negara Indonesia.
Namun
demikian, tulisan ini hanya memaparkan secara permukaan saja mengenai asal-usul
persebaran manusia Indonesia, jenis ras, macam suku bangsa, serta nilai adat
istiadat dari tiap-tiap lingkar budaya (kultuurkreis) manusia penghuni
pulau Nusantara. Tulisan ini lebih mengkaji pada aspek mental manusia
Indonesia, dalam hubungannya dengan dasar perumusan filsafat manusia Indonesia.
Topik kajian mental inilah yang hendak dipikirkan, diketahui, dipahami, dan
diungkap maknanya dalam kajian filsafat manusia.
2. Manusia Indonesia Secara Diakronik
Metode
diakronik, adalah core concept milik kajian linguistik yang digagas oleh
Ferdinand de Saussure (1857-1913), namun kemudian banyak dipakai dalam kajian
ilmu sosial, khususnya bidang sejarah. Diakronik, berarti melewati waktu,
artinya menerangkan suatu gejala secara kronologis sesuai pakem penelitian
historis.
Secara
diakronik, manusia Indonesia sebelum disatukan oleh sejarah yang sama, yakni
pengalaman dijajah oleh bangsa lain, merupakan bangsa merdeka dan unggul,
dengan kisah golden age-nya pada
masa Sriwijaya dan Majapahit. Selain itu, Nusantara yang terletak pada wilayah
yang strategis, merupakan daerah silang budaya. Berdasarkan latar belakang
sejarah, diasumsikan bahwa pada tahun 2500 SM-1500 SM, terdapat migrasi orang
Yunan (Mongol) ke Nusantara. Kemudian, penduduk asli yang terdiri dari ras
Melanesoid (negrito/ negro kecil) yang terdesak, bergeser ke timur. Hal inilah
yang menurut teori, menjadikan suku bangsa Indonesia di bagian timur sekarang
lebih dominan pigmen kulit hitam daripada suku bangsa di wilayah Indonesia bagian barat.
Bangsa Yunan sendiri, yang bermigrasi ke Nusantara dalam dua gelombang,
membentuk dua ras manusia Indonesia saat ini, yakni Deutero Melayu (Melayu Tua)
dan Proto Melayu (Melayu Muda).[5]
Harry
Julien Benda, menyatakan bahwa penduduk Nusantara yang terdiri dari tiga sub-ras
ini mengalami proses pembudayaan dari beberapa bangsa asing, yang diistilahkan
dengan Indianized (di-India-kan), Sinicized (di-Cina-kan), Hispanized
(di-Spanyol-kan), dan Arabicized (di-Arab-kan). Kendati demikian, bukan
berarti masyarakat penghuni Nusantara kehilangan akar budayanya, setelah
mengalami proses silang budaya tersebut. Terdapat kearifan lokal (local
genius) yang merupakan budaya unggul bangsa Nusantara, sebagaimana
dirumuskan oleh Brandes dalam Ten Point Basic Cultural Traits[6].
Setelah
disubordinasikan di bawah kungkungan penjajahan negara-negara asing (dimitoskan dan diajarkan bahwa penjajaha berlangsung selama 3,5 abad),
Indonesia lantas memproklamirkan kemerdekaannya, dengan menyatakan diri sebagai Bangsa
Indonesia, yakni masyarakat penghuni daerah bekas jajahan Kerajaan Belanda.
Secara ideologis, ragam suku bangsa, budaya, dan agama tersebut disatukan dalam
sebuah landasan ideologis bernama Pancasila, sebagai nilai-nilai yang ideal dan
menjadi pralambang filsafat manusia Indonesia yang dicita-citakan (das
sollen).
3. Manusia Indonesia Secara Sinkronik
Sebagaimana
metode diakronik, metode sinkronik juga core concept kajian linguistik Saussurian
yang banyak dipakai dalam kajian ilmu sosial, seperti bidang sosiologi,
antropologi, psikologi, atau ekonomi. Sinkronik, berarti bersama waktu (syn:
bersama, chronos: waktu), maksudnya menerangkan suatu gejala dengan
melihat keruangan tertentu, dalam keterkaitan mozaik-mozaik peristiwanya.
Secara
sinkronik, gambaran manusia Indonesia terangkum dalam beberapa stereotype yang
mendeskripsikan manusia Indonesia, baik dalam aspek positif maupun negatifnya.
Menurut stereotype kolonial Belanda, beberapa gambaran psikokultural negatif
dan positif bangsa Indonesia digambarkan sebagai berikut:
|
No.
|
Aspek Negatif
|
Aspek Positif
|
|
1.
|
Amat khianat
|
Dapat dipercaya
|
|
2.
|
Tidak mau memegang teguh
perjanjian
|
Royal
|
|
3.
|
Amat suka membunuh
|
Lembut
|
|
4.
|
Mau berperang saja
|
Baik
|
|
5.
|
Tidak jujur
|
Hormat
|
|
6.
|
Seperti binatang, beestachtig,
maha kejam
|
Tenang
|
|
7.
|
Kurang sanggup melakukan
kerja otak yang tinggi (hooge geestarbeid); dan
|
Ramah pada tamu; dan
|
|
8.
|
Sedang-sedang saja (middlematig)
dalam beragama, gairah kerja, kejujuran, rasa kasihan, dan rasa terima
kasihnya
|
Tidak suka memikirkan yang
susah-susah[7]
|
Adalah
menarik membandingkan kedua bentuk ciri-ciri mental orang Indonesia di atas. Di
satu pihak, mereka dikatakan “amat khianat”, tapi di pihak lain, juga dikatakan
“dapat dipercaya”. Di satu pihak dikatakan “maha kejam, seperti binatang”,
tetapi di pihak lain, juga dikatakan “lembut”. Manakah yang benar, sulit untuk
menyimpulkannya; atau orang Indonesia itu memang tidak konsisten keadaan
mentalitasnya, kadang-kadang jahat (tindakan amok dan budaya preman), kadang-kadang lembut (ramah
tamah), kadang-kadang tidak bisa dipercaya (koruptor), kadang-kadang jujur
(patuh pada guru, agamis), dan seterusnya.
Dari
sudut sosiologis-antropologis, deskripsi di atas dapat dikatakan sebagai
stereotype dari orang Belanda terhadap orang Indonesia. Artinya di kalangan
orang Belanda, terdapat semacam citra umum tentang orang Indonesia.
Citra yang disebut dengan istilah stereotype tersebut adalah semacam penarikan
garis umum tentang ciri-ciri mental orang Indonesia yang belum dibuktikan
kebenarannya secara ilmiah, namun sudah terlanjur diterapkan terhadap setiap
individu orang Indonesia.
Sebagai
perbandingan, di Amerika, ada semacam stereotype di kalangan orang kulit putih
terhadap orang kulit hitam, bahwa orang negro itu dianggap “kotor, berbakat
musik, tapi sangat emosional, dan berpola pikir sederhana”. Jadi dengan kata
lain, secara sosiologis-antropologis, sukar kita menerima kebenaran ciri-ciri
orang Indonesia seperti diungkapkan di atas. Namun sebagai bahan kajian
merumuskan filsafat manusia Indonesia, deskripsi di atas cukup berharga.
Sementara,
seorang jurnalis senior Indonesia, Mochtar Lubis, membangun stereotype sendiri
terhadap orang Indonesia, yakni:
|
No.
|
Stereotype Negatif
|
Stereotype Positif
|
|
1.
|
Munafik dan hipokrit, Asal
Bapak Senang (iklim feodalisme), suka menggerutu, tidak berani terbuka
|
Punya rasa humor yang
tinggi
|
|
2.
|
Segan dan enggan
bertanggungjawab atas perbuatannya, keputusannya, kelakuannya, dan sebagainya
|
Kemesraan hubungan antar
manusia
|
|
3.
|
Pegawai Negeri adalah
idaman, berperilaku feodal, birokrasi yang kompleks
|
Berhati lembut dan suka
damai
|
|
4.
|
Percaya pada takhayul,
meskipun sudah berpendidikan tinggi
|
Sabar
|
|
5.
|
Konsumtif, boros, tidak
suka menabung, tidak hemat
|
Kasih ibu dan bapak
terhadap anak-anaknya
|
|
6.
|
Cemburu dan dengki
terhadap orang lain yang lebih kaya
|
Otaknya cukup encer, cepat
belajar[8]
|
Citra
umum atau stereotype di atas merupakan sedikit gambaran kondisi riil masyarakat
Indonesia (das sein), dalam horison yang melintasi suku bangsa di
seluruh Indonesia. Karena, harus disadari, bahwa pengamalan Pancasila (das
sollen) sebagaimana yang dirumuskan dan dicita-citakan oleh para pendiri
bangsa, masih sulit diamalkan. Tidak mungkin, seorang pemimpin bangsa
pengamal Pancasila, dengan prinsip-prinsip Ketuhanan, Kemanusiaan dan Keadilan
Sosial, sampai hati melakukan tindak pidana
korupsi.
Dasar Merumuskan Filsafat Manusia Indonesia
Pemaparan
mengenai manusia Indonesia, baik secara diakronis (historis) maupun secara
sinkronis (sosiologis-antropologis-psikologis) di atas kiranya dapat
mengantarkan pemahaman berpikir kita untuk menentukan dasar-dasar perumusan
filsafat manusia Indonesia. Beberapa simpul gagasan yang dapat dirangkai
perihal dasar-dasar perumusan filsafat manusia Indonesia antara lain ialah:
a.
Realitas
kedirian (raison d’etre) manusia Indonesia, yang majemuk, multikultural,
dengan riak-riak ide dan gagasannya masing-masing, sesuai dengan kondisi
lingkungan dan budaya dimana mereka tinggal.
b.
Ragam agama
dan kepercayaan yang dianut, diyakini, dan dilaksanakan oleh seluruh manusia
Indonesia. Agama ialah jalan hidup (way of life), sekaligus standar
moral, nilai, akhlak, juga pembeda antara yang haq dan yang bathil, bagi
masing-masing umat pemeluk agama tertentu yang dijamin oleh Undang-Undang.
c.
Cita-cita
umum rakyat Indonesia, untuk mencapai kesejahteraan bersama, kedamaian hidup
bersama, serta berperan dalam mewujudkan kedamaian dunia; yang dibenturkan
dengan kenyataan belum meratanya kesejahteraan, jaminan keamanan, hak asasi,
supremasi hukum, dan sebagainya.
d.
Mentalitas
dan perikehidupan bangsa Indonesia yang semakin beragam, dan cenderung berada
dalam krisis, sebagaimana tergambarkan dalam stereotype-stereotype di atas.
C.
Penutup
Dasar merumuskan filsafat manusia Indonesia,
secara diakronik dan sinkronik ialah dengan memperhatikan dan mempertimbangkan
aspek-aspek tertentu, yakni: 1) realitas kedirian (raison d’etre)
manusia Indonesia, yang majemuk, atau multikultural; 2) ragam agama dan
kepercayaan yang dianut, diyakini, dan dilaksanakan oleh seluruh manusia
Indonesia; 3) cita-cita umum rakyat Indonesia, untuk mencapai kesejahteraan
bersama; dan 4) mentalitas dan perikehidupan bangsa Indonesia yang semakin
beragam.
D.
Daftar
Pustaka
Abidin, Zainal. 2006. Filsafat Manusia,
Memahami Manusia Melalui Filsafat. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Agung, Dewa Agung Gde. 2003. Analisis Awal
Terhadap Pengaruh India Di Indonesia., dalam Sejarah Dan Budaya, Dari Masa
Kuno Sampai Kontemporer. Malang: UM Press.
Hadi, Nur. 2003. Fenomena Akulturasi Dalam
Sejarah Kebudayaan Indonesia., dalam Sejarah Dan Budaya, Dari Masa Kuno
Sampai Kontemporer. Malang: UM Press.
Jalaluddin. 2003. Teologi Pendidikan.
Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Lubis, Mochtar. 1977. Manusia Indonesia.
Jakarta: Inti Idayu Press.
Marzali, Amri. 2005. Antropologi dan
Pembangunan. Jakarta Kencana.
Nata, Abuddin. 1997. Filsafat Pendidikan
Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
Poedjawijatna, I.R.. 1983. Manusia Dengan
Alamnya, Filsafat Manusia. Jakarta: Bina Aksara.
Ro’uf, Abdul Mukti. 2008. Manusia Super.
Pontianak: STAIN Pontianak Press.
Sunoto. 1982. Mengenal Filsafat Pancasila.
Yogyakarta: Hanindita
---------. 1985. Menuju Filsafat Indonesia.
Yogyakarta: Hanindita
[1]
I.R. Poedjawijatna. 1983. Manusia
Dengan Alamnya, Filsafat Manusia. Jakarta: Bina Aksara., hal. 56
[3]
Zainal Abidin. 2006. Filsafat
Manusia, Memahami Manusia Melalui Filsafat. Bandung: Remaja Rosdakarya., hal.
4-5
[5]
Dewa Agung Gde Agung. 2003. Analisis
Awal Terhadap Pengaruh India Di Indonesia., dalam Sejarah Dan Budaya, Dari Masa
Kuno Sampai Kontemporer. Malang: UM Press., hal. 84-85
[6]
Sepuluh macam kemampuan asli
Indonesia ini ialah: 1) Wayang, 2) Gamelan, 3) Tembang (metrum), 4) Seni Batik,
5) Pengerjaan Logam, 6) Sistem Mata Uang, 7) Pelayaran, 8) Astronomi, 9)
Irigasi, dan 10) Sistem Pemerintahan. Lihat, Nur Hadi. 2003. Fenomena
Akulturasi Dalam Sejarah Kebudayaan Indonesia., dalam Ibid., hal. 114.
[7]
Mochtar Lubis. 1977. Manusia
Indonesia. Jakarta: Inti Idayu Press
[9]
Aisyah Bintu Syati. 1999. Manusia
Dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya., hal. 2
[10]
Abdul Mukti Ro’uf. 2008. Manusia
Super. Pontianak: STAIN Pontianak Press., hal. 3
[11]
Jalaluddin. 2003. Teologi
Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada., hal. 19
[12]
Quraish Shihab. 1996. Wawasan
Al-Qur’an. Bandung: Mizan., hal. 279
[13]
Abuddin Nata. 1997. Filsafat
Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu., hal. 31
[15]
Jalaluddin. Op.Cit., hal. 23
[17]
Quraish Shihab. Op.Cit., hal.
278
[18]
Abdul Mukti Ro’uf. Op.Cit.,
hal. 39
[19]
Jalaluddin. Op.Cit., hal. 23
[20]
Abdul Mukti Rouf. Op.Cit.,
hal 24
[21]
Jalaluddin. Op.Cit., hal 28
[22]
Ibid.
[23]
Aisyah Bintu Syati. 1999. Manusia
Dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya., hal. 5
[24]
Jalaluddin. Op.Cit., hal. 29
Tidak ada komentar:
Posting Komentar