Jumat, 10 Juni 2016

Makalah Halaqoh: Filsafat Manusia Indonesia

Filsafat Manusia Indonesia

Oleh: Arif Subekti; 29/02/2012-04:13 PM


A.    Mukaddimah
Alhamdulillah, segala puji hanya untuk Allah Yang Maha Menciptakan dan Yang Maha Menghimpun, semoga di awal bulan Rabi’ul Akhir yang indah ini, segenap umat muslim dianugerahi iman yang sempurna, keyakinan yang benar, lisan yang senantiasa menyebut asma-Nya, serta kalbu yang khusyu’. Shalawat dan salam, yang senantiasa menghiasi istighotsah-istighotsah, wirid ba’da maktubah, serta aneka ibadah; kiranya menjadi do’a sekaligus penanda kecintaan kita pada Rasulullah Muhammad SAW. Semoga tsawab barokahnya meliputi kita semua, keluarga, murabbi ruwhinaa, ahlul ma’had, serta jama’ah subuh sedunia. Allaahumma barrik ummata sayyidinaa Muhammad, fiy bukuwrihaa. Amin.
Pada sela kesibukan dan kekosongan yang gilir gumanti, alhamdulillah kami mendapat kesempatan  untuk mempresentasikan salah satu materi halaqoh yang berjudul Dasar Perumusan Filsafat Manusia Indonesia. Secara sepintas lalu, dapat diketahui bahwa pembahasan kali ini termasuk pembahasan filsafat, yakni ilmu tentang mengetahui kebenaran yang hakiki. Pengetahuan ini sangat penting, mengingat mempelajari filsafat manusia, dapat membantu setiap orang yang mempelajarinya untuk lebih mengenali diri. Secara mudahnya, mengetahui dan memahami filsafat manusia Indonesia, diharapkan mampu menambah kecerdasan individual dan kesalehan sosial dalam melakukan analisis terhadap segala gejala dan kejadian di masyarakat.
Merupakan hal yang lumrah, wajar, dan niscaya; bagi saya, anda, dan mereka; yang merasa diri sebagai manusia Indonesia, untuk mengerti (enklaren) serta memahami (verstehen) filsafat manusia Indonesia, sesuai dengan konsensus para pendiri negara (founding fathers) yang terumuskan dalam Pancasila. Filsafat manusia atau antropologi filsafati merupakan bagian integral dalam sistem filsafat, yang secara spesifik menyoroti hakikat atau esensi manusia. Frasa ini kemudian disifati dengan kata “indonesia”, suatu kesatuan politik dalam sejarah panjang yang kemudian membentuk frasa baru, “bangsa Indonesia” secara majemuk, dan “manusia Indonesia” secara individu.
Akan halnya menelisik dasar perumusan filsafat manusia indonesia, yang dimensi-dimensinya dalam risalah ini dikaji secara diakronis dan sinkronis. Sebagai langkah awal, pendedahan definisi mengenai filsafat manusia dan Indonesia, baik secara operasional, maupun leksikal-gramatikal sesuai dengan semangat zaman (zeit geist) saat ini, kami paparkan. Selanjutnya, perihal dasar perumusan filsafat manusia Indonesia, berikut stereotipe manusia Indonesia dari beberapa ahli, kami jajarkan sehingga hakikat manusia Indonesia menjadi lebih kentara. Pada ujung risalah, kami cantumkan beberapa simpulan (sementara) yang diharapkan tidak menjumudkan kreativitas berpikir. Semoga tulisan ringkas ini bermanfaat. Amin

B.     Pembahasan
1.      Definisi
a.      Filsafat Manusia
Filsafat manusia adalah suatu cabang dari filsafat yang mengupas tentang arti menjadi manusia, maksudnya bahwa filsafat manusia ialah usaha secara sistematis untuk mengetahui dan memahami hakekat manusia yang berdiri sendiri dalam dunianya, serta mempelajari fungsi keberadaannya di dunia.[1] Falsafah Jawa mengenal istilah kawruh sangkan paraning dumadi nira (the origin and the destination of all creatures), yang terjemahan bebasnya berarti mengetahui asal kejadian (sangkan) dan tujuan dijadikan (paran); kemudian kesimpulan retoris ini berhulu dan bermuara pada Tuhan Yang Esa, Allah Subhanhu Wa Ta’ala (inna liLlahi wa inna ilaihi raaji’uwn), atau dalam budaya Jawa, Gusti Kang Persipatan Tan Kena Kinaya Ngapa, yakni awal segala ihwal, absolut, serta Tan Kena Winirasa, yakni tak dapat direka-reka.[2]
Filsafat manusia termasuk dalam kajian ontologi atau metafisika, dimana objek materialnya adalah sama dengan ilmu-ilmu tentang manusia (misalnya antropologi dan psikologi) lainnya, yakni gejala manusia. Baik filsafat manusia maupun ilmu-ilmu tentang manusia, pada dasarnya bertujuan untuk menyelidiki, menginterpretasi, dan memahami gejala-gejala atau ekspresi-ekspresi manusia.[3]
Kemudian, beberapa filsuf menggolongkan dua aspek dalam memahami hakekat manusia, yaitu: aspek ekstensif, meliputi pembahasan hakekat manusia yang berhubungan dengan sifat, gejala, kegiatan, dan segala sesuatu yang meyangkut pada segala bidang. Kemudian aspek intensif, meliputi pembahasan yang mengarah pada intisari dari manusia.[4]
b.      Manusia Indonesia
Adalah Adolf Bastian, seorang dokter dan sekaligus etnolog kebangsaan Jerman, yang memopulerkan nama Indonesia ketika menerbitkan laporan perjalanan dan penelitiannya di Berlin, yang diterbitkan dalam karya 5 jilid (1864 – 1894) dengan judul Indonesien, oder die Inseln des malaysischen Archipels (Indonesia, atau Pulau-Pulau dari Kepulauan Malaya).
Secara literal, kata Indonesia berasal dari kata latin: indus/ endos yang berarti Hindia dan kata nesos yang berarti pulau, (nesioi-jamak berarti pulau-pulau). Dengan demikian, kata Indonesia berarti pulau-pulau Hindia. Indonesia dikenal pula dengan sebutan Nusantara. Kata Nusantara berasal dari bahasa Jawa Kuno, yaitu nusa yang berarti pulau dan antara yang berarti hubungan. Jadi, Nusantara berarti rangkaian pulau-pulau.
Indonesia dalam pengertian geografis berarti bagian bumi yang membentang dari 95°-141° Bujur Timur, dan 6° Lintang Utara sampai 11 Lintang Selatan. Sedangkan Indonesia dalam arti bangsa yang secara politik, ekonomi, dan sosial budaya dalam wilayah tersebut. Negara ini sendiri merupakan kesatuan bekas jajahan Kerajaan Belanda, hingga tahun 1945 menurut versi Indonesia atau tahun 1949 menurut versi Belanda. Sehingga manusia Indonesia dalam pembahasan ini, ialah penghuni bagian bumi Indonesia, yang terdiri atas lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa, adat istiadat, agama, serta budaya.
c.       Filsafat Manusia Indonesia
Batasan atau definisi operasional mengenai filsafat manusia Indonesia, dalam tulisan ini ialah usaha mengetahui dan memahami esensi, hakikat, atau struktur dasar manusia penghuni wilayah negara Indonesia, yang meliputi aspek-aspek morfologis manusia Indonesia, dimensi-dimensi budayanya, serta nilai-nilai yang berlaku dalam wilayah negara Indonesia.
Namun demikian, tulisan ini hanya memaparkan secara permukaan saja mengenai asal-usul persebaran manusia Indonesia, jenis ras, macam suku bangsa, serta nilai adat istiadat dari tiap-tiap lingkar budaya (kultuurkreis) manusia penghuni pulau Nusantara. Tulisan ini lebih mengkaji pada aspek mental manusia Indonesia, dalam hubungannya dengan dasar perumusan filsafat manusia Indonesia. Topik kajian mental inilah yang hendak dipikirkan, diketahui, dipahami, dan diungkap maknanya dalam kajian filsafat manusia.
2.      Manusia Indonesia Secara Diakronik
Metode diakronik, adalah core concept milik kajian linguistik yang digagas oleh Ferdinand de Saussure (1857-1913), namun kemudian banyak dipakai dalam kajian ilmu sosial, khususnya bidang sejarah. Diakronik, berarti melewati waktu, artinya menerangkan suatu gejala secara kronologis sesuai pakem penelitian historis.
Secara diakronik, manusia Indonesia sebelum disatukan oleh sejarah yang sama, yakni pengalaman dijajah oleh bangsa lain, merupakan bangsa merdeka dan unggul, dengan kisah golden age-nya  pada masa Sriwijaya dan Majapahit. Selain itu, Nusantara yang terletak pada wilayah yang strategis, merupakan daerah silang budaya. Berdasarkan latar belakang sejarah, diasumsikan bahwa pada tahun 2500 SM-1500 SM, terdapat migrasi orang Yunan (Mongol) ke Nusantara. Kemudian, penduduk asli yang terdiri dari ras Melanesoid (negrito/ negro kecil) yang terdesak, bergeser ke timur. Hal inilah yang menurut teori, menjadikan suku bangsa Indonesia di bagian timur sekarang lebih dominan pigmen kulit hitam daripada suku bangsa di wilayah Indonesia bagian barat. Bangsa Yunan sendiri, yang bermigrasi ke Nusantara dalam dua gelombang, membentuk dua ras manusia Indonesia saat ini, yakni Deutero Melayu (Melayu Tua) dan Proto Melayu (Melayu Muda).[5]
Harry Julien Benda, menyatakan bahwa penduduk Nusantara yang terdiri dari tiga sub-ras ini mengalami proses pembudayaan dari beberapa bangsa asing, yang diistilahkan dengan Indianized (di-India-kan), Sinicized (di-Cina-kan), Hispanized (di-Spanyol-kan), dan Arabicized (di-Arab-kan). Kendati demikian, bukan berarti masyarakat penghuni Nusantara kehilangan akar budayanya, setelah mengalami proses silang budaya tersebut. Terdapat kearifan lokal (local genius) yang merupakan budaya unggul bangsa Nusantara, sebagaimana dirumuskan oleh Brandes dalam Ten Point Basic Cultural Traits[6].
Setelah disubordinasikan di bawah kungkungan penjajahan negara-negara asing (dimitoskan dan diajarkan bahwa penjajaha berlangsung selama 3,5 abad), Indonesia lantas memproklamirkan kemerdekaannya, dengan menyatakan diri sebagai Bangsa Indonesia, yakni masyarakat penghuni daerah bekas jajahan Kerajaan Belanda. Secara ideologis, ragam suku bangsa, budaya, dan agama tersebut disatukan dalam sebuah landasan ideologis bernama Pancasila, sebagai nilai-nilai yang ideal dan menjadi pralambang filsafat manusia Indonesia yang dicita-citakan (das sollen).
3.      Manusia Indonesia Secara Sinkronik
Sebagaimana metode diakronik, metode sinkronik juga core concept kajian linguistik Saussurian yang banyak dipakai dalam kajian ilmu sosial, seperti bidang sosiologi, antropologi, psikologi, atau ekonomi. Sinkronik, berarti bersama waktu (syn: bersama, chronos: waktu), maksudnya menerangkan suatu gejala dengan melihat keruangan tertentu, dalam keterkaitan mozaik-mozaik peristiwanya.
Secara sinkronik, gambaran manusia Indonesia terangkum dalam beberapa stereotype yang mendeskripsikan manusia Indonesia, baik dalam aspek positif maupun negatifnya. Menurut stereotype kolonial Belanda, beberapa gambaran psikokultural negatif dan positif bangsa Indonesia digambarkan sebagai berikut:
No.
Aspek Negatif
Aspek Positif
1.
Amat khianat
Dapat dipercaya
2.
Tidak mau memegang teguh perjanjian
Royal
3.
Amat suka membunuh
Lembut
4.
Mau berperang saja
Baik
5.
Tidak jujur
Hormat
6.
Seperti binatang, beestachtig, maha kejam
Tenang
7.
Kurang sanggup melakukan kerja otak yang tinggi (hooge geestarbeid); dan
Ramah pada tamu; dan
8.
Sedang-sedang saja (middlematig) dalam beragama, gairah kerja, kejujuran, rasa kasihan, dan rasa terima kasihnya
Tidak suka memikirkan yang susah-susah[7]
Adalah menarik membandingkan kedua bentuk ciri-ciri mental orang Indonesia di atas. Di satu pihak, mereka dikatakan “amat khianat”, tapi di pihak lain, juga dikatakan “dapat dipercaya”. Di satu pihak dikatakan “maha kejam, seperti binatang”, tetapi di pihak lain, juga dikatakan “lembut”. Manakah yang benar, sulit untuk menyimpulkannya; atau orang Indonesia itu memang tidak konsisten keadaan mentalitasnya, kadang-kadang jahat (tindakan amok dan budaya preman), kadang-kadang lembut (ramah tamah), kadang-kadang tidak bisa dipercaya (koruptor), kadang-kadang jujur (patuh pada guru, agamis), dan seterusnya.
Dari sudut sosiologis-antropologis, deskripsi di atas dapat dikatakan sebagai stereotype dari orang Belanda terhadap orang Indonesia. Artinya di kalangan orang Belanda, terdapat semacam citra umum tentang orang Indonesia. Citra yang disebut dengan istilah stereotype tersebut adalah semacam penarikan garis umum tentang ciri-ciri mental orang Indonesia yang belum dibuktikan kebenarannya secara ilmiah, namun sudah terlanjur diterapkan terhadap setiap individu orang Indonesia.
Sebagai perbandingan, di Amerika, ada semacam stereotype di kalangan orang kulit putih terhadap orang kulit hitam, bahwa orang negro itu dianggap “kotor, berbakat musik, tapi sangat emosional, dan berpola pikir sederhana”. Jadi dengan kata lain, secara sosiologis-antropologis, sukar kita menerima kebenaran ciri-ciri orang Indonesia seperti diungkapkan di atas. Namun sebagai bahan kajian merumuskan filsafat manusia Indonesia, deskripsi di atas cukup berharga.
Sementara, seorang jurnalis senior Indonesia, Mochtar Lubis, membangun stereotype sendiri terhadap orang Indonesia, yakni:
No.
Stereotype Negatif
Stereotype Positif
1.
Munafik dan hipokrit, Asal Bapak Senang (iklim feodalisme), suka menggerutu, tidak berani terbuka
Punya rasa humor yang tinggi
2.
Segan dan enggan bertanggungjawab atas perbuatannya, keputusannya, kelakuannya, dan sebagainya
Kemesraan hubungan antar manusia
3.
Pegawai Negeri adalah idaman, berperilaku feodal, birokrasi yang kompleks
Berhati lembut dan suka damai
4.
Percaya pada takhayul, meskipun sudah berpendidikan tinggi
Sabar
5.
Konsumtif, boros, tidak suka menabung, tidak hemat
Kasih ibu dan bapak terhadap anak-anaknya
6.
Cemburu dan dengki terhadap orang lain yang lebih kaya
Otaknya cukup encer, cepat belajar[8]
Citra umum atau stereotype di atas merupakan sedikit gambaran kondisi riil masyarakat Indonesia (das sein), dalam horison yang melintasi suku bangsa di seluruh Indonesia. Karena, harus disadari, bahwa pengamalan Pancasila (das sollen) sebagaimana yang dirumuskan dan dicita-citakan oleh para pendiri bangsa, masih sulit diamalkan. Tidak mungkin, seorang pemimpin bangsa pengamal Pancasila, dengan prinsip-prinsip Ketuhanan, Kemanusiaan dan Keadilan Sosial, sampai hati melakukan tindak pidana korupsi. 
    
     Dasar Merumuskan Filsafat Manusia Indonesia
Pemaparan mengenai manusia Indonesia, baik secara diakronis (historis) maupun secara sinkronis (sosiologis-antropologis-psikologis) di atas kiranya dapat mengantarkan pemahaman berpikir kita untuk menentukan dasar-dasar perumusan filsafat manusia Indonesia. Beberapa simpul gagasan yang dapat dirangkai perihal dasar-dasar perumusan filsafat manusia Indonesia antara lain ialah:
a.    Realitas kedirian (raison d’etre) manusia Indonesia, yang majemuk, multikultural, dengan riak-riak ide dan gagasannya masing-masing, sesuai dengan kondisi lingkungan dan budaya dimana mereka tinggal.
b.    Ragam agama dan kepercayaan yang dianut, diyakini, dan dilaksanakan oleh seluruh manusia Indonesia. Agama ialah jalan hidup (way of life), sekaligus standar moral, nilai, akhlak, juga pembeda antara yang haq dan yang bathil, bagi masing-masing umat pemeluk agama tertentu yang dijamin oleh Undang-Undang.
c.    Cita-cita umum rakyat Indonesia, untuk mencapai kesejahteraan bersama, kedamaian hidup bersama, serta berperan dalam mewujudkan kedamaian dunia; yang dibenturkan dengan kenyataan belum meratanya kesejahteraan, jaminan keamanan, hak asasi, supremasi hukum, dan sebagainya.
d.   Mentalitas dan perikehidupan bangsa Indonesia yang semakin beragam, dan cenderung berada dalam krisis, sebagaimana tergambarkan dalam stereotype-stereotype di atas.

C.    Penutup
Dasar merumuskan filsafat manusia Indonesia, secara diakronik dan sinkronik ialah dengan memperhatikan dan mempertimbangkan aspek-aspek tertentu, yakni: 1) realitas kedirian (raison d’etre) manusia Indonesia, yang majemuk, atau multikultural; 2) ragam agama dan kepercayaan yang dianut, diyakini, dan dilaksanakan oleh seluruh manusia Indonesia; 3) cita-cita umum rakyat Indonesia, untuk mencapai kesejahteraan bersama; dan 4) mentalitas dan perikehidupan bangsa Indonesia yang semakin beragam.

D.    Daftar Pustaka

Abidin, Zainal. 2006. Filsafat Manusia, Memahami Manusia Melalui Filsafat. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Agung, Dewa Agung Gde. 2003. Analisis Awal Terhadap Pengaruh India Di Indonesia., dalam Sejarah Dan Budaya, Dari Masa Kuno Sampai Kontemporer. Malang: UM Press.
Hadi, Nur. 2003. Fenomena Akulturasi Dalam Sejarah Kebudayaan Indonesia., dalam Sejarah Dan Budaya, Dari Masa Kuno Sampai Kontemporer. Malang: UM Press.
Jalaluddin. 2003. Teologi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Lubis, Mochtar. 1977. Manusia Indonesia. Jakarta: Inti Idayu Press.
Marzali, Amri. 2005. Antropologi dan Pembangunan. Jakarta Kencana.
Nata, Abuddin. 1997. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
Poedjawijatna, I.R.. 1983. Manusia Dengan Alamnya, Filsafat Manusia. Jakarta: Bina Aksara.
Ro’uf, Abdul Mukti. 2008. Manusia Super. Pontianak: STAIN Pontianak Press.
Sunoto. 1982. Mengenal Filsafat Pancasila. Yogyakarta: Hanindita
---------. 1985. Menuju Filsafat Indonesia. Yogyakarta: Hanindita
 


[1] I.R. Poedjawijatna. 1983. Manusia Dengan Alamnya, Filsafat Manusia. Jakarta: Bina Aksara., hal. 56
[2] Ibid., hal 51-52
[3] Zainal Abidin. 2006. Filsafat Manusia, Memahami Manusia Melalui Filsafat. Bandung: Remaja Rosdakarya., hal. 4-5
[4] Ibid., hal. 22
[5] Dewa Agung Gde Agung. 2003. Analisis Awal Terhadap Pengaruh India Di Indonesia., dalam Sejarah Dan Budaya, Dari Masa Kuno Sampai Kontemporer. Malang: UM Press., hal. 84-85
[6] Sepuluh macam kemampuan asli Indonesia ini ialah: 1) Wayang, 2) Gamelan, 3) Tembang (metrum), 4) Seni Batik, 5) Pengerjaan Logam, 6) Sistem Mata Uang, 7) Pelayaran, 8) Astronomi, 9) Irigasi, dan 10) Sistem Pemerintahan. Lihat, Nur Hadi. 2003. Fenomena Akulturasi Dalam Sejarah Kebudayaan Indonesia., dalam Ibid., hal. 114.
[7] Mochtar Lubis. 1977. Manusia Indonesia. Jakarta: Inti Idayu Press
[8] Ibid., hal 24-28
[9] Aisyah Bintu Syati. 1999. Manusia Dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya., hal. 2
[10] Abdul Mukti Ro’uf. 2008. Manusia Super. Pontianak: STAIN Pontianak Press., hal. 3
[11] Jalaluddin. 2003. Teologi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada., hal. 19
[12] Quraish Shihab. 1996. Wawasan Al-Qur’an. Bandung: Mizan., hal. 279
[13] Abuddin Nata. 1997. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu., hal. 31
[14] Ibid., hal. 29
[15] Jalaluddin. Op.Cit., hal. 23
[16] Ibid., hal. 16
[17] Quraish Shihab. Op.Cit., hal. 278
[18] Abdul Mukti Ro’uf. Op.Cit., hal. 39
[19] Jalaluddin. Op.Cit., hal. 23
[20] Abdul Mukti Rouf. Op.Cit., hal 24
[21] Jalaluddin. Op.Cit., hal 28
[22] Ibid.
[23] Aisyah Bintu Syati. 1999. Manusia Dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya., hal. 5
[24] Jalaluddin. Op.Cit., hal. 29
[25] Ibid.
[26] Ibid., hal 31

Tidak ada komentar:

Posting Komentar