Selasa, 12 Juli 2011

Nihil Fit Sine Causa; Tentang Akal, Wahyu, dan Realitas

Nihil Fit Sine Causa
Tentang Akal, Wahyu, dan Realitas
Oleh: Arif Subekti; 27/11/2007 - 2:37 AM

“Tidak ada sesuatupun terjadi tanpa sebab”. Begitulah makna literal ungkapan filsuf Yunani bernama Leucippus (V SM), perihal hukum kausalitas, yang saya cuplik sebagai tajuk artikel ini. Bahwa membahas logika (penalaran) ilmu pengetahuan modern, semestinya menerima asas dasar hukum sebab-akibat yang menegaskan; bahwa segenap peristiwa memiliki sebab yang mungkin dapat diketahui, dengan catatan manusia berusaha menyelidikinya, serta memiliki pengetahuan yang memadai untuk melakukan penyelidikan itu.1 Siang hari misalnya, merupakan unsur akibat dari sebab gerak rotasi bumi, jadi karena perputaran pada porosnya, dunia ini mengalami saat malam, pagi, siang, juga senja2.
Demikianlah, dengan dipakainya hukum kausalitas, terbaca dengan seksama (nyaris) segala fenomena hayat manusia, masyarakat, alam, dan jagad raya; baik kajian dunia fisik (umwelt) maupun dunia psikis (eigenwelt).Tak pelak, sumbangsih teorema kausalitas dalam kehidupan manusia demikian besarnya, dalam menyelidiki sebabnya sebuah peristiwa, maupun akibat yang diramalkan bakal terjadi dari suatu atau beberapa sebab.3 Namun, sekian penolakan dilontarkan; kaitannya dengan ekses filsafati materialistis dari perkembangan ilmu pengetahuan dan utamanya bidang eksakta; oleh segolongan pengkritik yang umumnya ialah para agamawan-cendekia. Bahwa keyakinan akan sifat mekanisme alam; semesta raya sanggup berjalan dengan sendirinya, laiknya mesin yang programnya adalah hukum alam hasil pemikiran manusia, akan bermuara pada peniadaan Sang Pengatur; Tuhan Yang Maha Kuasa. Sayd Quthb menyematkan predikat ilmu kafir pada setiap hasil pemikiran manusia yang (menurut penilaiannya) akan menggiring umat pada atheisme.4 Hal senada juga diungkapkan bebapa eksponen cendekiawan-agamawan, seperti Harun Yahya; tentang pengingkarannya pada teori evolusi Charles Darwin; atau Sejarawan Arnold Toynbee; yang menuduh ilmu pasti dan teknologi telah merampas kedudukan agama Kristen sebagai pralambang umat Nasrani.5
Artikel ini, sekedar hasrat mengungkapkan kronologi dialektis perihal pengkafiran hasil akal manusia oleh wahyu --yang juga ditafsirkan manusia-- serta sedikit rintisan pendamaian, pasca pembenturan akal dan wahyu tadi dengan realitas. Sementara, kausalitas dipakai sebagai dasar berpijak berbentuk rumusan masalah, “siapa/apa yang menjadi causa prima (sebab pertama) dari jagat ini?” Sebagai langkah awal, terpapar dua tiga preparat hasil kreativitas akal yang disinyalir menumbuhkembangkan (atau menguatkan) aliran filsafat materialisme. Disusul dengan hujjah (argumen) para pengkritiknya, baik lewat dalil aqliy (evidensi rasional) maupun naqliy (eviden dogmatis-kitab suci).

Akal: Ilmu Pengetahuan
Akal sebagai piranti elementer manusia dalam memahami dan menaklukkan semesta; di satu pihak dinilai sanggup menyuguhkan solusi cerdas mengatasi selaksa masalah. Namun, di pihak lain, akal terkadang dianggap berbahaya; yakni tatkala kreativitasnya malah mengacaubalaukan nilai-nilai tradisi dan tata-tertib yang sudah mapan. Bahwa analisa dan diskusi ilmiah yang berlebihan dalam sikap kemerdekaan akademiknya, berpotensi meruntuhkan dasar-dasar pranata sosial; yang lantas oleh penguasa represif dianggap sebagai alur pemikiran berbahaya lagi sesat.
Misalnya Newton (1642-1727 M), yang lewat The Law of Motion (Hukum Gerak)-nya, mampu melakukan pengukuran matematis gerakan benda-benda dalam ruang bebas maupun dalam medium yang menahan.6 Dalam magnum opus-nya, Natural Philosophae Principia Mathematica, Newton mengatakan “efek (akibat) yang sama dalam alam harus disebabkan oleh sebab yang sama, seperti pernafasan pada manusia dan hewan, jatuhnya batu di Eropa dan Amerika, cahaya api dapur dan matahari, pembalikan cahaya pada bumi dan planet-planet”.7 Mengenai Hukum Gerak ini, Tan Malaka memberikan amsal dalam karyanya, Madilog yang masyhur itu; jika ada dua batu dijatuhkan, masing-masing memiliki massa yang sama, gaya gravitasi, kelembaban udara dan sekian anteseden (prasyarat keadaan) lain yang serupa, maka yang akan terjadi ialah efek yang sama persis8 –yang selanjutnya dirumuskan dalam Hukum Kelembaman (Law of Inertia). Jadi, dengan asumsi bahwa dimensi ruang dan waktu (spatial and time) adalah mutlak dan universal, Sir Isaac Newton, sang manusia kedua paling berpengaruh dalam sejarah ini menyatakan; alam (fisik) ini dapat dicermati serta dipelajari lewat hukum dasar kausalitas.9
Mengenai pandangan (paradigma) betapa mekanisnya alam, juga terumuskan dalam Hukum Kekekalan Energi (Law of Conservation of Force)-nya Lavoisier (1818-1889 M), yang berbunyi “energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan; energi yang hilang dalam satu bentuk bisa didapat dalam bentuk yang lain”. Jadi jumlah energi yang Ada di semesta raya ini tetap jumlahnya, misalnya energi listrik berubah menjadi energi cahaya pada lampu. Demikian pula Hukum Kekekalan Materi, sebagai pelengkap teorema kimiawan terkemuka di atas, bahwa satu benda yang berupa zat asli (elementer) bisa “hilang”, namun sebagai efek ialah lahirnya materi lain. Mineral yang dikandung bangkai hewan atau jasad manusia yang “hilang”, pada prinsipnya dihisap oleh organisme dekomposer (pengurai; nabati-hewani). Mirip dengan seseorang yang mempunyai uang senilai satu milyar, kemudian lima ratus juta untuk membeli dua unit mobil dan sisanya dia tabung. Kendati sebagian uangnya telah bertukar rupa menjadi mobil, namun jumlahnya tetap satu milyar.10 Sementara dalam kajian ilmu hayat, kita kenal Origin of Species-nya Darwin; berisi risalah tentang asal-usul mahluk hidup yang terbaca lewat teori evolusi atau asumsi perkembangan mahluk hidup dari yang sederhana menuju yang rumit. Ada pula teorema generatio spontanae atau teori abiogenesis dari Aristoteles (384-322 SM); yang meyakini awal mahluk hidup ada adalah secara tiba-tiba (spontan).11
Pada intinya, mahakarya Newton, Joule, Darwin atau Aristoteles tersebut memaparkan keteraturan semesta pada setiap tingkat satuannya; lalu-lintas jaringan xylem-phloem pada tumbuhan, mata capung serta keseimbangannya, atau atom-atom yang membentuk sudut-sudut pada tertib ujung logam menurut pola tertentu, dan jika dilihat dengan mikroskop ion medan, menunjukkan keadaan mikrokosmos.12 Dari keteraturan tersebut, Darwin, Prescot Joule, hingga Lavoisier menemukan hukum alam yang kiranya mampu menjawab kuriositas (keingintahuan) manusia. Dari hukum alam ini, ditegaskan bahwa kelanjutan setiap sebab adalah akibat, dan sebab yang sama umumnya akan menghasilkan akibat yang sama pula.

Wahyu : Vitalisme, (≠) Mekanisme, dan Agnostisisme
Perkembangan pemikiran ilmiah di atas adalah kegamangan filosofis yang mempertanyakan penyebab pertama (prima causa) dari semesta raya nan elok ini. Adapun jawaban sekaligus ekses filsafati yang mengiringi buah akal dari para pemikir di atas secara dialektis ialah vitalisme, mekanisme, kemudian agnotisme. Vitalime merupakan suatu doktrin yang menyatakan adanya kekuatan di luar sistem alam, berperan sebagai pemilik fungsi esensial dalam mengatur segala sesuatu yang terjadi di alam, yang kita sebut sebagai Tuhan. Gaya vital atau elan vital ini menentukan rupa jagad, membimbing tingkah laku atom, mahluk hidup, planet dan semuanya. Sedangkan pada mahluk hidup, elan vital ini juga disebut sebagai jiwa atau roh (ini ada hubungannya dengan tesis Hegel tentang Roh Absolut). Filsafat vitalisme inilah yang memenuhi ruang terbesar kajian ilmiah dari paradigma teologis.
Sebagai sintesis vitalisme, adalah alur fikir mekanisme yang beranggapan bahwa hukum alam merupakan penyebab segala fenomena alam. Berdasar hasil penginderaan, segala peristiwa atau gejala alam berdasar hukum alam, seperti hukum fisika serta kimia; terjadi secara otomatis-sistematis. Mekanisme juga menyamakan gejala pada makhluk hidup dengan yang tak hidup (positivisme-nya Comte, Hume dan Kant), dan menjadi abai akan perbedaan hakiki antara yang bernyawa dan tidak. Kemudian muncul agnostisisme; sebagai semacam middle way (jalan tengah) diantara beda prinsip yang mendasar antara vitalisme dan mekanisme, terutama perihal ada tidaknya Sang Perancang jagad. Para pengikut agnotisme hanya mempelajari fenomena alam saja; tidak menyangkutpautkan kegiatan ilmiahnya dengan ide ketuhanan.13 Bisa jadi, dasar terakhir ini yang membuat Pak Blasius (dosen kami di kampus UM) menyendirikan antara pembahasan Adam dan Ramapithekus dari tanah Hindi dalam mata kuliah prasejarah.
Lantas, bagaimana dengan wahyu yang merupakan seperangkat ajaran berisikan perintah, larangan, serta anjuran yang ditransmisikan pada segenap umat manusia dan tidak untuk dibantah (non est disputandum). Para ahli yang berfikir dari aras teosentris; memakai metode penalaran deduktif yakni proses berfikir yang bertolak dari sesuatu pengertian yang sudah ada (dogma), menuju kepada suatu pengertian baru berbentuk simpulan (fatwa).14 Contoh pemikir yang seperti ini adalah Toynbee, Harun Yahya, Kierkegaard dan sebagainya.

Realitas
Masih sumir, apakah wahyu dan akal (ilmu pengetahuan) berrelasi secara kontradiktoris (saling menegasikan), kontraris (negasi yang resiprokal, dan kemungkinan keduanya salah), subkontraris (kemungkinan keduanya benar) atau subalternan (tidak menegasikan, kemungkinan salah satu benar-salah, atau keduanya benar).15 Absurditasnya dapat direfleksikan dari ungkapan lawas: Man purpose, God dispose. Seberapa dalam proporsi manusia, dengan akal dan usahanya, menentukan eksistensinya; demikian pula, berapa prosen andil Tuhan.
Postulat tadi seharusnya dapat terjawab pada diktum: jika benar maka itu mutlak dari Tuhan, andaikata salah maka kedhaifan manusialah (akal) penyebabnya. Jadi jelas bahwa segala yang benar adalah wahyu, sementara biang kesesatan mulanya dari akal; bahwa Tuhan hanya menjadi faktor yang determinan atas perkara yang benar lagi baik, dan Ia terlepas pada urusan yang salah, tercela dan berdosa.
Pemikiran kritis tentang iman dan tindakan ini, secara tidak simultan, mendorong lahirnya berbagai pemahaman yang heterogen sebagai efek dan ekses dari kreativitas manusia menafsiran beragam wahyu. Kenyataan ini nampak jelas pada kajian lahirnya golongan-golongan Liberal beberapa agama besar dunia; interpretasi alternatif yang mereka tawarkan seakan ingin meruntuhkan penafsiran umum oleh sementara cendekiawan konservatif. Ambil contoh Ulil Abshar Abdala, sebagai eksponen gerakan Islam Liberal, meyakini bahwa meskipun al-Qur’an sebagai wahyu verbal memang telah purna, namun penemuan-penemuan mutakhir manusia merupakan wahyu non verbal, sebagai komplemen atas al-Qur’an yang diturunkan Allah.16 Karena temuan aerodinamika yang mengantarkan Orville Wright bersaudara menciptakan pesawat terbang adalah -- sesuai pragmatisme James (truth is in the making) -- kebenaran, maka sesuai kategorisasi Ulil temuan pesawat tersebut adalah wahyu non verbal.
Secara ringkas, Hasan Hanafi memberi gambaran antara akal, wahyu, dan realitas ini dalam pembuktiannya, tentang naluri manusia dan Kemahatahuan Tuhan. Misalkan “Saya ingin menjadi yang maha mengetahui” (sebuah kehendak akal dan putusan yang ideal); namun “Saya tidak bisa menjadi yang maha mengetahui” (suatu putusan berdasar realitas); lantas “Saya meyakini bahwa Tuhan Maha Mengetahui, sehingga Tuhan adalah yang terbaik yang saya miliki dan saya imani (perasaan keagamaan).17
Namun, sesederhana itukah manusia yang serba relatif watak dan perilakunya, berhadapan dengan Tuhan yang sifatnya telah dikonstantakan oleh manusia-manusia penafsir? Atau justru Tuhan itu Maha Relatif sementara manusia sudah purna konstantanya, lewat takdir-ketetapan Tuhan? Kegamangan ini segera berakhir tatkala umat beragama dilarang memikirkan Dzat yang mereka sembah, padahal di ranah tersebut diskusi tertulis ini tengah berlangsung.

Endnote
1.Gorys Keraf. 2004. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Gramedia., hal 50
2.Namun logika yang silap dalam memilah eviden (bukti) dan proses penalarannya mengatakan bahwa “karena sesuatu terjadi sesudah sesuatu hal yang lain, maka peristiwa itu disebabkan oleh hal yang terjadi lebih dahulu –post hoc, ergo propter hoc”. Sehingga penalaran untuk contoh di atas berubah menjadi “hari menjadi siang sesudah ayam berkokok; sebab itu, ayam berkokok menjadikan hari jadi siang”. Ibid., hal. 52
3.Ini sesuai dengan slogannya madzhab positivisme “savoir pour prevoir” mengetahui untuk meramalkan.
4.Lih. Sayd Quthb. 1999. Penulisan Kembali Sejarah Islam. Jakarta: Gema Insani Press
5.Penganut teologi neo-ortodok menyebut ilmu pasti sebagai “alienasi pribadi” karena mendorong manusia ke wilayah di mana tiada berlaku lagi pedoman-pedoman fitria. Lih. Gerald Holton. Ilmu Pengetahuan Modern dan Kita. dalam Dick Hartoko. 1987. Golongan Cendekiawan Merreka yang Berumah di Angin Sebuah Bunga Rampai. Jakarta: Kesaint Blanc., hal. 88
6.Michael H. Hart. 1982. Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah (Terj). Jakarta : Dunia Pustaka Jaya
7.Robert B.Downs. 2001. Buku-Buku Pengubah Sejarah (Terj). Yogyakarta: Tarawang., hal 162
8.Datuk Ibrahim Tan Malaka. 1999. Madilog: Materialisme, Dialektika, Logika. Jakarta: Pusat Data Indikator., hal 32
9.Michael White. 1992. Isaac Newton (terj). Jakarta: Gramedia hal. 86
10.Datuk Ibrahim Tan Malaka. Op Cit, 33
11.Sebenarnya teori generation spontanae sudah digantikan teori omne vivo ex ovo, omne ovo ex vivo (tiap yang hidup dari telur, tiap telur dari yang hidup), sebab itu, hanya eviden dari argument saya saja. Lebih jelasnya lihat Maskoeri Jasin. 2002. Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta: Raja Grafindo Persada., hal. 9-42.
12.Lihat di harian Kompas, tentang keteraturan dalam ketidakteraturan motif batik, sebagai amsal teori Fraktal Mandelbrot
13.Maskoeri Jasin. Op Cit., hal. 20-22
14.Gorys Keraf. Op Cit., hal. 57
15.Alex Lanur OFM. 1983. Logika Selayang Pandang. Yogyakarta: Kanisius., hal 35-37
16.Ulil Abshar Abdala. 2004. Penyegaran Kembali Pemahaman Islam Kita. www.islamlib.com
17.Hasan Hanafi. 2005. Bongkar Tafsir: Liberalisasi, Revolusi, dan Hermeneutik. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media., hal 46

Tidak ada komentar:

Posting Komentar