Jumat, 10 Juni 2016

Sejarah Wacana Religio-Intelektual: Madzhab-Madzhab dan Aliran Intelektual Pada Masa Indonesia Klasik



Sejarah Wacana Religio-Intelektual: Madzhab-Madzhab dan Aliran Intelektual Pada Masa Indonesia Klasik
Oleh: Arif Subekti; 12/03/2010-03:18 AM

Pendahuluan
Orang Islam adalah mayoritas di negara Indonesia, dan kenyataan ini adalah fakta sejarah yang kemungkinan untuk jangka waktu yang lama tidak akan berubah (Kuntowijoyo, lali bukune). Secara paradigmatik, dengan menggunakan teori difusi, Islam disebarkan dari tanah Hijaz (center) ke banyak tempat di dunia (periphery). Nusantara, termasuk juga negara-negara tetangga pada masa kini, seperti Malaysia, Brunei, dan Filipina, dapat digolongkan sebagai wilayah pinggiran dimana penyebaran agama Islam tersebut berlangsung. Pertanyaan yang kemudian mengemuka berkaitan dengan kedatangan Islam di Nusantara, adalah seputar tiga tema pokok: tempat asal kedatangan Islam, para pembawanya, serta waktu kedatangannya (Azyumardi Azra, ki yo lali bukune). Berbagai teori dan pembahasan yang berusaha menjawab ketiga tiga tema pelik ini, dengan berbagai argumentasi juga penggambaran perihal kedatangan Islam, hampir bisa dipastikan senantiasa mengawali tulisan-tulisan mengenai historiografi Islam Nusantara.
Pembahasan mengenai tempat asal datangnya budaya dan agama Islam ke Nusantara sendiri, adalah suatu hal yang panjang, rumit, dan paling tidak jelas[1], yang kerumitan tersebut tidak hanya disebabkan oleh kompleksitas di sekitar sosok Islam itu sendiri sebagaimana direfleksikan oleh kaum muslim saat ini, baik melalui historiografi tradisional (hikayat, babad, serat, tambo, dan sebagainya) maupun dalam praktik kehidupan sehari-hari; melainkan juga karena pengkajian-pengkajian sejarah Islam dengan berbagai aspeknya di kawasan ini belum mampu merumuskan suatu paradigma historis yang dapat dijadikan pegangan bersama. Terdapat perbedaan-perbedaan dasar di kalangan para sejarawan dalam mengkaji islamisasi Nusantara, yang terkadang sulit dipertemukan satu sama lain.[2] Kendati demikian, bukan berarti diskusi yang melibatkan para sejarawan, arkeolog, epigraf, dan akademisi lainnya ini kemudian mandeg tanpa disusul penelitian lanjutan.

Teori-teori Islamisasi Nusantara
Secara garis besar, beberapa teori mengenai masuk dan berkembangnya Islam, berdasarkan asal kedatangannya ialah: pertama, teori yang menyatakan bahwa Islam datang langsung dari Arab, atau tepatnya Hadramaut. Selain Crawfurd (1820), Keyzer (1859), Niemann (1861), De Hollander (1861), dan Veth (1878). Sejarawan domestik yang mendukung teori ini adalah Hamka dalam seminar “Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia” pada 1962. Menurutnya, Islam masuk ke Indonesia langsung dari Arab, bukan melalui India, dan bukan pula pada abad XI Masehi, melainkan pada abad pertama Hijriyah atau VII Masehi.[3] Kedua, teori India pertama kali dikemukakan oleh Pijnapel (1872), yang kemudian dikembangkan oleh Snouck Hurgronje dan Morrison (1951), dengan menunjuk pantai Koromandel di India sebagai pelabuhan tempat bertolaknya para pedagang Muslim dalam pelayaran mereka menuju Nusantara.[4] Ketiga, teori Persia, yang diantara pendukungnya, adalah Hosein Djajadiningrat yang mendasarkan analisisnya pada pengaruh sufisme Persia terhadap sufisme Nusantara, penggunaan istilah bahasa Persia dalam sistem mengeja huruf Arab, adanya modifikasi peringatan Assyura pada hari kesepuluh bulan Muharram (penanggalan hijriyah) dalam beberapa bentuk budaya di Nusantara, seperti bubur Assyura di Jawa, upacara Tabut di Sumatera Tengah, serta penyebutan bulan Hasan-Husain untuk bulan Muharram di Minangkabau.[5] Keempat, teori Cina, dengan pendukungnya H.J. de Graaf yang juga didukung oleh Slamet Muljana serta Denys Lombard; dengan eviden-eviden perihal pengaruh Cina dalam berbagai aspek kehidupan penghuni Nusantara, seperti makanan, pakaian, bahasa, seni bangunan, dan sebagainya.[6] Kelima, teori yang menyatakan bahwa Islam datang dari Bengali (kini Bangladesh) dari Fatimi, yang mengutip keterangan Tome Pires bahwa kebanyakan orang terkemuka di Pasai adalah orang Bengali atau keturunan mereka.[7]
Secara keseluruhan, perdebatan mengenai tempat asal kedatangan Islam, aktor pembawa, dan waktu terjadinya kedatangan, tersebut di atas menggambarkan bahwa Islam yang masuk ke Indonesia adalah Islam yang tidak monolit, dalam arti latar belakang atau motivasi penyebaran Islam (konflik politik di negeri asal, ekonomi/perdagangan, kunjungan utusan negeri seberang, dan seterusnya), madzhab jurisprudensi hukum aktor pembawanya (fiqh), model proses islamisasi yang diambil (perkawinan, perdagangan, penaklukan, pendudukan, dakwah, dan sebagainya), hingga tradisi dan ajaran esoteriknya (tashawuf). Pertimbangan ini kemudian juga memunculkan tema-tema selanjutnya dalam perkembangan historiografi Islam Nusantara; seperti kajian tentang sejarah Wali Sanga, manusia suci penyebar agama Islam khususnya di tanah Jawa beserta ajaran-ajaran esoteriknya[8], wajah-wajah Islam lokal seperti Islam Sasak atau Islam Wetu Telu, dan berbagai kajian lainnya. Berangkat dari realitas tersebut, tulisan ini akan memaparkan wacana religio-intelektual yang mewarnai sejarah peradaban Islam di Nusantara, berupa ragam school of thought yang mewujud dalam madzhab-madzhab atau jurisprudensi hukum fiqh, kemudian tashawuf, serta beberapa karya yang lahir dari pergulatan wacana religio-intelektual dalam perjalanan sejarah Indonesia klasik.

Madzhab Syi’ah: Asal Muasal dan Persebarannya di Nusantara
Penelusuran islamisasi Nusantara sebagaimana telah dipaparkan diatas, kiranya sedikit membantu pemaparan mengenai madzhab-madzhab atau jurisprudensi hukum fiqh yang dibawa serta oleh para penyebar agama Islam di Nusantara. Teori yang menyatakan bahwa Islam dibawa oleh para pedagang dari Gujarat dan Persia pada permulaan abad ke-12 ke pantai timur Sumatera, terutama ke daerah Perlak dan Pasai, bisa digolongkan pada madzhab Syi’ah, yang sebagaimana tersebut di muka, masih nampak pengaruhnya dalam beberapa ritus lokal, seperti upacara tabut, bubur asyura, serta penyebutan bulan Hasan-Husain bagi bulan Muharram. Secara literal, Syi’ah bermakna “partai” atau “golongan”, yang menunjuk pada sekelompok pengikut Ali ibn Abi Thalib, yang berpendapat bahwa khalifah hanya dapat diwarisi oleh Ali dan keturunannya.[9] Aliran madzhab ini kemudian tersebar di Persia, pantai Hindustan, Asia Tengah, Syiria, Arab Barat, dan Mesir. Maka dapat dipahami bahwa para pedagang Persia, Arab, dan Gujarat yang datang di pantai timur Sumatera pada permulaan abad ke-12 membawa aliran Syi’ah. Mereka menetap di pantai timur Sumatera dan berhasil mendirikan kesultanan Perlak di muara sungai Peureulak dan Pasai di muara sungai Pasai dengan bantuan dari dinasti Fathimiyah di Mesir.[10]
Secara singkat, dasar pemikiran aliran Syi’ah adalah mengenai pewarisan Nur Muhammad yang efek serta eksesnya juga pada hal kepemimpinan politik dan religi; dipercayai hanya dapat dilalui alias didapatkan oleh keturunan Nabi Muhammad SAW. Keturunan beliau adalah Fathimah yang menikah dengan Ali Ibn Abi Thalib dan menurunkan dua orang putra, Hasan dan Husein. Konsekuensi dari pemikiran ini ialah bahwa kekhalifahan dinasti Umayyah dan dinasti Abbasyiah tidaklah legal, karena mereka bukanlah keturunan dari Hasan dan Husein, dus tidak mewarisi Nur Muhammad sebagai prasyarat kepemimpinan. Selain itu, dalam hal fiqh, aliran Syi’ah lebih mengakui hadits yang diriwayatkan oleh Ali Ibn Abi Thalib, Fathimah, serta orang-orang tertentu; sehingga dalam ritual keagamaan, terdapat aturan-aturan yang sama sekali berbeda dengan aliran-aliran madzhab yang lain. Misalnya dalam peringatan hari wafatnya Hasan dan Husein di padang Karbala tiap 10 Muharram dijadikan hari yang paling mulia bagi kaum Syi’ah dan diperingati secara lebih meriah daripada hari raya Islam pada umumnya.[11]
Tashawuf[12] atau ajaran-ajaran esoteris yang diikuti dan diajarkan dalam Syi’ah dapat digolongkan sebagai tashawuf wujudiyah[13] atau pantheisme juga sangat berpengaruh di Nusantara. Di kesultanan Aceh, tashawuf wujudiyah tersebut diajarkan oleh darwis (seorang ingin mencapai kesempuranaan hidup melalui ritus seperti ratapan tangis dan sebagainya, atas kematian Hasan dan Husein) dan penyair Hamzah Fanshuri dan seorang tokoh sufi, Syamsuddin Al-Sumatrani (meninggal 1630 M) pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Melalui upaya sepasang guru-murid ini, penyebaran aliran tashawuf  yang sangat diwarnai pemikiran Ibn Arabi (meninggal 1240 M) ini digalakkan melalui penulisan kitab-kitab tashawuf dalam bahasa Melayu, yang secara luas diterima oleh masyarakat umum dan kalangan istana. Hal ini terutama karena peran Syamsuddin Al-Sumatrani sebagai mufti (seperti MUI sekarang) Kerajaan Aceh pada waktu itu.[14] Salah satu kutipan dari ajaran tashawuf wujudiyyah Hamzah Fanshuri, yang menggambarkan kesatuan antara Tuhan (Khaliq: Pencipta) dengan manusia beserta alam semesta (mahluq: objek yang diciptakan), diantaranya adalah:
Wahidkan hendak asar dan batu
Itulah tamsil engkau dan ratu
Yogia kau pandang kapas dan kain
Keduanya wahid asmanya lain[15]
Aliran Sy’iah menjalar dari daerah Aceh ke daerah Minangkabau, dimana persebarannya dimulai sejak tahun 1128 M. Pada waktu itu, laksamana Nazimuddin Al-Kamil mengadakan gerakan militer dari pantai Aceh ke sungai Kampar Kanan dan Kampar Kiri guna menguasai hasil lada di daerah tersebut. Nazimuddin Al-Kamil gugur dalam ekspedisi tersebut dalam tahun 1128, namun usahanya tersebut kemudian diikuti oleh para pedagang asing yang menganut aliran Syi’ah. Hasil lada itu diangkut ke bandar Perlak, kemudian dibawa ke pasar di Gujarat. Penyebaran Islam secara massif di Minangkabau dengan aliran Syi’ah baru terjadi sejak tahun 1513, dimana tokoh bernama Tuanku Burhanuddin Syah yang berkuasa di Pariaman sebagai vassal Aceh banyak mendatangkan guru agama dari Kambayat/ Gujarat.[16]

Madzhab Syafi’i: Asal Muasal dan Persebarannya di Nusantara
Salah satu dasar teori yang menyatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara dari India atau langsung dari Arab, adalah perihal kesamaan madzhab yang secara parallel berkembang di kedua daerah asal tersebut maupun di Nusantara pada umumnya. Sebagai temuan terbaru, bahwa teori yang menyatakan Islam masuk dari Bengal yang berdasarkan makam di Leran, Jawa Timur dibantah lewat penelitian terbaru yang dilakukan oleh Claude Guillot dan Ludvik Kalus yang selama ini dijadikan landasan islamisasi Nusantara, khususnya di tanah Jawa. Menurut Guillot dan Kalus, kehadiran agama Islam di Pulau Jawa alih-alih dibuktikan oleh nisan-nisan Leran, justru nisan tersebut terbawa ke Nusantara secara kebetulan saja setelah diangkut dari tempat asalnya dan dipergunakan sebagai jangkar dan tolak bara (pemberat kapal) dalam sebuah kapal asing.[17] Tokoh legendaris Fathimah Binti Maimun –yang menurut versi Guillot dan Kalus, alih-alih Fathimah melainkan Li ‘aashimah (perempuan yang terjaga dari dosa) Binti Maymun– yang telah dihubung-hubungkan dengan tokoh Maulana Malik Ibrahim (diyakini sebagai salah satu anggota Wali Sanga, sembilan orang suci penyebar agama Islam di tanah Jawa)[18], menurut temuan baru ini, sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki di Pulau Jawa[19]. Dus, keberadaan nisan-nisan yang kini terpajang di Museum Trowulan tersebut, jika versi ini diterima, dengan demikian hanya membuktikan satu hal: yaitu bahwa di daerah tersebut telah ada orang Islam dalam jumlah yang berarti, berupa keturunan orang-orang pendatang, orang asli, atau campuran; lebih dari 450 tahun sebelum zaman Malik Ibrahim dan putrinya yang berasal dari negeri yang jauh, yang hidup dan mati di daerah Leran tersebut.[20] Di sisi lain, para pakar dunia Nusantara saat ini, boleh dikatakan telah sepakat dalam menentukan masa islamisasi di Jawa Timur, yakni diantara kerusuhan yang menyusul kematian Erlangga sekitar tahun 1045 M, dan saat kejayaan Kerajaan Daha (Kadiri) pada masa Raja Jayabaya, kurang dari satu abad kemudian.[21]
Terlepas dari perdebatan diatas, bahwa sebagaimana tercatat dalam sejarah, keberhasilan golongan Syafi’i mengakhiri dinasti Fathimiyyah di Mesir pada tahun 1268 yang diikuti dengan berdirinya dinasti Mamaluk; berpengaruh pula pada peta wacana intelektual-religi di Nusantara. Syaikh Ismail yang diutus oleh dinasti Mamaluk pada tahun 1285, berhasil “menyeberangkan” Marah Silu yang beraliran Syi’ah ke madzhab Syafi’iyyah, dan dengan dukungan armada yang menyertainya, mampu mengganti kekuasaan kesultanan Pasai yang sebelumnya juga beraliran Syi’ah. Marah Silu kemudian dinobatkan sebagai sultan pertama di kesultanan Samudera dengan gelar Malik al-Saleh. Sementara, perkawinan puteri sultan Zain al-Abidin Bahian Syah dari Samudera/ Pasai (penerus Malik al-Saleh) dengan sultan pertama Malaka yakni raja Parameswara, dapat menkonversi raja pantai barat Semenanjung Malaka ini menjadi muslim beraliran Syafi’i, dan berganti nama Mughat Iskandar Syah pada tahun 1414. Dus, perluasan daerah kekuasaan kesultanan Malaka diikuti dengan perluasan pengaruh Islam madzhab Syafi’i ke beberapa wilayah, seperti di daerah pantai timur Semenanjung dan juga pantai timur Sumatera, kemudian daerah Aru, Rokan, Siak, Kampar, serta Indragiri. Dari sini, dapat dikatakan bahwa sampai akhir abad ke-15, agama Islam aliran Syafi’i berhasil menguasai hampir seluruh daerah pantai timur Sumatera dan pantai barat Semenanjung.[22]
Pendapapat di atas, bisa juga disesuaikan dengan pengaruh tokoh-tokoh intelektual-religi di Nusantara hingga akhir abad ke-17, yang memiliki peranan penting dalam penyebaran madzhab, tashawuf, tafsir, dan sebagainya. Diantara tokoh-tokoh tersebut, adalah Nududdin Ar-Raniri (meninggal 1658), seorang ulama dari daerah Ranir, India, yang hijrah dan menetap di wilayah kesultanan Aceh. Ia berperan penting dalam menggantikan peranan penting dua tokoh syi’ah sebelumnya, Hamzah Fansuri dan Samsuddin Al-Sumatrani, dalam membentuk pemikiran dan praktik keagamaan kaum muslim Melayu-Indonesia pada paruh kedua abad ke-17, dengan karyanya yang terkenal, Bustan al-Salathin fiy Dzikr al-Awwalin wa al-Akhiriyn.[23] Kemudian, tokoh Abd al-Rauf al-Sinkili (1615-1696), yang nisbat nama terakhirnya menunjuk pada daerah Sinkel, bagian dari pantai barat-laut Aceh, disebut-sebut sebagai penerus dari ar-Raniri di kesultanan Aceh.[24] Selanjutnya adalah Muhammad Yusuf al-Maqassari (1627-1699), seorang intelektual Islam yang jaringan intelektualnya terhubung dari Sulawesi Selatan (tanah kelahirannya), Banten, Sri Lanka, hingga Afrika Selatan.[25] Adapun persebaran madzhab syafi’i di pulau Jawa, pada masa akselerasi islamisasi yakni dari abad ke-12 hingga abad 16[26], tidak begitu meluas pengaruhnya hingga akhir abad ke-15, diantaranya karena di Jawa (bagian tengah dan timur) pada masa itu telah berkembang Islam madzhab Hanafi.

Madzhab Hanafi: Asal Muasal dan Persebarannya di Nusantara
Slamet Muljana yang menawarkan tesis bahwa sebagaian tokoh Walisongo adalah keturunan Cina, berpendapat bahwa Islam yang dibawa dan disebarkan di pulau Jawa oleh Walisongo beraliran Hanafi. Raden Rahmat alias Sunan Ngampel adalah pendatang dari negeri Campa, dengan nama asli Bong Swi Hoo, yang mana ajaran madzhab Hanafi-nya kemudian dilanjutkan di Demak oleh Raden Patah alaias Pangeran Jin Bun. Agama Islam aliran Hanafi di Jawa berasal dari Campa/ Yunan, dibawa oleh orang-orang Tionghoa yang ditugaskan oleh kaiasar Yung-lo untuk mengadakan hubungan dagang dan politik di Asia Tenggara di bawah pimpinan Laksamana Cheng Ho. Dus, jika persebaran agama Islam di Jawa dianggap berpangkal pada ajaran Bong Swi Hoo alias Sunan Ngampel, yang mulai membangun masyarakat Islam di Ngampeldenta, maka tahun permulaan persebaran agama Islam madzhab Hanafi ialah tahun 1451.[27]
Sebagai catatan kritis, Muljana merangkai hikayatnya dari sumber-sumber sejarah tak resmi seperti Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda yang ditulis pada zaman kerajaan Mataram abad ke-17 dan agak dipertanyakan historisitas maupun otentisitasnya. Karena dalam kedua buku tersebut, sejarah dijalin dengan dongeng sehingga sulit membedakan mana yang benar-benar fakta dan mana yang hanya fiksi. Lebih-lebih, kedua cerita itu tidak ditopang oleh bukti-bukti yang kongkrit seperti prasasti dan sebagainya. Muljana juga merujuk sejumlah arsip ringkasan Preambule Prasaran, berita Tionghoa dari klenteng Talang, sumber berita Portugis, dan sebuah catatan dari klenteng Sam Po Kong di Semarang. Berdasarkan rujukan-rujukan inilah Muljana lalu mengisahkan bahwa Raden Rahmat alias Sunan Ampel adalah pendatang asal Yunan yang bernama asli Bong Swi Hoo, putra Makhdum Ibrahim dan cucu Bong Tak Keng, penguasa tertinggi Campa. Tiba di Jawa pada tahun 1445, dua tahun kemudian Raden Rahmat mengawini putri Majapahit bernama Ni Gede Manila yang merupakan anak Gan Eng Cu alias Tumenggung Wilawaktikta, mantan panglima Cina di Manila yang ditempatkan di Tuban sejak tahun 1423. Dari perkawinan itu lahirlah Bong Ang alias Sunan Bonang.
Dalam buku Muljana ini disitir pula bahwa Raden Patah pendiri Kesultanan Islam Demak yang bergelar Panembahan Jimbun seperti tertulis dalam  Serat Kanda dan Babad Tanah Djawi adalah Jin Bun dalam legenda masyarakat Cina Nusantara. Konon, Raden Alit alias Prabu Brawijaya VII (Raja Majapahit) menikahi putri Cina Muslim dan mempunyai anak yang tidak dibesarkan di  lingkungan keraton, tetapi dibesarkan oleh komunitas Cina Muslim di Palembang. Maka, menurutnya, kerajaan Islam Demak sebenarnya dibangun oleh komunitas Cina Muslim asli dan keturunan yang menetap di Semarang. Raden Patah yang menjadi Sultan Demak pertama (1475-1518) dengan gelar Senapati Jimbun Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayidin Panata Agama berguru kepada Sunan Ampel sebelum membina masyarakat Muslim di Demak. Muljana menyebutkan bahwa Sunan Kalijaga yang masa mudanya bernama Raden Said itu tidak lain adalah Gan Si Cang, tokoh Muslim keturunan Cina yang memimpin pembangunan Masjid Demak dengan tukang-tukang kayu dari Semarang. Sedangkan Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati adalah Toh Ah Bo, putra dari Tung Ka Lo alias Sultan Trenggono. Tak hanya keempat sunan itu keturunan Cina. Dikatakan pula bahwa Sunan Giri, yang juga murid Sunan Ampel, pun keturunan Cina. Ini dikaitkan dengan ayah Sunan Giri yang bernama Sayid Ishaq, yang tak lain adalah paman dari Sunan Ampel alias Bong Swi Hoo sendiri. Sementara itu, Sunan Kudus atau Jafar Sidik juga disinyalir keturunan Cina bernama Ja Tik Su. Jadi, dari Sembilan Wali yang terkenal itu setidaknya ada enam diantaranya keturunan Cina.[28]
Pendapat Muljana ini disangkal oleh Ahmad Mansur Suryanegara, yang menyatakan bahwa kesimpulan Muljana agak sukar untuk diterima. Hanya karena dokumen dari kuil itu menyebut nama-nama wali penyebar Islam dalam logat Cina tidak berarti mereka itu keturunan Cina. Sebab orang Cina memang mengubah banyak nama orang dan nama tempat sesuai dengan ucapan mereka.
“Mengapa tidak seluruh nama pelaku sejarah dan nama tempat yang dicinakan dalam Kronik Klenteng Sam Po Kong ditafsirkan menjadi semuanya? Dengan pengertian menjadi tidak ada seorang pun Pribumi”

Dalam tradisi Jawa pun terjadi penjawaan nama seperti kasus J.P. Coen yang dijawakan menjadi “Mur Jangkung” atau Mulla Sadra menjadi “Mulo Sodro”), namun tidak berarti keduanya adalah orang Jawa.
 “Apakah kita akan berkesimpulan bahwa pendiri Nahdlatoel Oelama, Hasjim Asj‘ari, itu orang Arab hanya karena namanya dari bahasa Arab?”[29]


Daftar Rujukan

Ambary, Hasan Muarif. 1998. Menemukan Peradaban: Jejak Arkeologis dan Historis Islam di Indonesia. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
Azra, Azyumardi (Ed). 1989. Perspektif Islam di Asia Tenggara. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
______________. 1995. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Melacak Akar-Akar Pembaruan Pemikiran Islam di Indonesia.Bandung: Mizan.
______________, 2001. Renaisans Islam Asia Tenggara Sejarah Wacana dan Kekuasaan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
______________. 2002. Islam Nusantara: Jaringan Global dan Lokal. Bandung: Mizan.
Gibb, A.R. Hamilton. 1964. Islam dalam Lintasan Sejarah. Jakarta: Bhratara.
Guillot, Claude dan Ludvik Kalus. (Ed). 2008. Inskripsi Islam Tertua di Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Hasan, Ahmad Rifa’i (Ed.). 1990. Warisan Intelektual Indonesia: Telaah atas Karya-Karya Klasik. Bandung: Mizan.
Hasjmy, A. (Ed.). 1993. Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia. Bandung: Al-Ma’arif.
Huda, Noor. 2007. Islam Nusantara Sejarah Sosial Intelektual Islam di Indonesia. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Group.
Rahimsah, MB. (Ed). (tanpa tahun). Legenda dan Sejarah Lengkap Wali Songo. Jakarta: Amanah.
Ricklefs, M.C. 2005. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Jakarta: Serambi Ilmu.
Slamet Muljana. 2005. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara. Yogyakarta: LkiS.
Sou’ayb, Joesoef. 1997. Syiah: Studi tentang Aliran-Aliran dan Tokoh-Tokohnya. Jakarta: Al Husna Zikra
Sunyoto, Agus. 2011. Wali Songo, Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan. Jakarta: Trans Pustaka.
____________2012. Atlas Wali Songo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo sebagai Fakta Sejarah. Jakarta: Pustaka IIman dan Trans Pustaka
Suryanegara, Ahmad Mansur. 2009. Api Sejarah. Bandung: Salamadani.
Sutrisno, Budiono Hadi. 2004. Sejarah Wali Songo Misi Pengislaman di Tanah Jawa. Yogyakarta: Pustaka.
Tjandrasasmita, Uka. 2009. Arkeologi Islam Nusantara. Jakarta: KPG.
Yusuf, Mundzirin. dkk (Ed.) 2006. Sejarah Peradaban Islam di Indonesia. Yogyakarta: Pustaka.


[1] M.C. Ricklefs. 2005. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Jakarta: Serambi Ilmu., hal. 3
[2] Azyumardi Azra., 2001. Renaisans Islam Asia Tenggara Sejarah Wacana dan Kekuasaan. Bandung: Remaja Rosdakarya., hal. 27
[3] Ibid. 31. Lihat juga Azyumardi Azra., 2002.Islam Nusantara: Jaringan Global dan Lokal. Bandung: Mizan., hal. 25-28; A. Hasjmy (Ed.). 1993. Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia. Bandung: Al-Ma’arif., hal. 7; Mundzirin Yusuf, dkk (Ed.) 2006. Sejarah Peradaban Islam di Indonesia. Yogyakarta: Pustaka., hal. 37; Noor Huda. 2007. Islam Nusantara Sejarah Sosial Intelektual Islam di Indonesia. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Group., hal. 35-36
[4] Azyumardi Azra. 2001. Op.Cit., hal. 31-32; Azyumardi Azra. 2002. Op.Cit., hal. 24-26; A. Hasjmy (Ed.). Op.Cit., hal. 9; Mundzirin Yusuf, dkk (Ed.). Op.Cit., hal. 34-37; Noor Huda. Op.Cit., hal. 32-35
[5] Noor Huda. Op.Cit., hal. 37-38
[6] Ibid. 38-39
[7] Ibid., hal. 39; Azyumardi Azra. 2001, Op. Cit., hal. 32
[8] Di antaranya adalah karya MB Rahimsah (Ed). (tanpa tahun). Legenda dan Sejarah Lengkap Wali Songo. Jakarta: Amanah; Budiono Hadi Sutrisno. 2004. Sejarah Wali Songo Misi Pengislaman di Tanah Jawa. Yogyakarta: Pustaka; Agus Sunyoto. 2011. Wali Songo, Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan. Jakarta: Trans Pustaka; serta Agus Sunyoto. 2012. Atlas Wali Songo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo sebagai Fakta Sejarah. Jakarta: Pustaka IIman dan Trans Pustaka
[9] Penjelasan mengenai pengertian dan sejarah Syi’ah, di antaranya Joesoef Sou’yb. 1997. Syiah: Studi tentang Aliran-Aliran dan Tokoh-Tokohnya. Jakarta: Al Husna Zikra, hlm. 200, serta A.R. Hamilton Gibb. 1964. Islam dalam Lintasan Sejarah. Jakarta: Bhratara, hlm: 152
[10] Slamet Muljana. 2005. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara. Yogyakarta: LkiS., hlm. 155
[11] Ibid., hlm. 157
[12] Tashawuf, oleh John Bousfield diterjemahkan sebagai perenungan mendalam tentang sifat realitas (metafisika dan kosmologi), kemungkinan dan sifat pengetahuan manusia (epistemologi) dan implikasi-implikasi semuanya bagi kehidupan (etika dalam pengertian paling luas), yang dilihat sebagai aspke-aspek usaha intelektual yang secara mendalam dapat memengaruhi kualitas kehidupan pribadi seseorang. Lihat, John Bousfield. Filsafat Islam di Asia Tenggara, dalam Azyumardi Azra (Ed). 1989. Perspektif Islam di Asia Tenggara. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia., hlm. 184
[13] Slamet Muljana., Op.Cit., hlm. 158
[14] Ahmad Daudy. Tinjauan Atas “Al-Fath Al-Mubin ‘Ala Al-Mulhidin” Karya Syaikh Nuruddin Ar-Raniri, dalam Ahmad Rifa’i Hasan (Ed.). 1990. Warisan Intelektual Indonesia: Telaah atas Karya-Karya Klasik. Bandung: Mizan., hlm. 21-22
[15] Ibid., hlm. 29
[16] Slamet Muljana., Op.Cit., hlm. 160
[17] Claude Guillot dan Ludvik Kalus. Nisan Leran (Jawa) Berangka Tahun 455 H/ 1082 M dan Nisan-nisan Terkait, dalam Claude Guillot dan Ludvik Kalus (Ed). 2008. Inskripsi Islam Tertua di Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia., hlm. 9 Bandingkan dengan versi-versi lama mengenai nisan-nisan Leran., lihat. Hasan Muarif Ambary. 1998. Menemukan Peradaban: Jejak Arkeologis dan Historis Islam di Indonesia. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
[18] Agus Sunyoto. 2011. OpCit., hlm. 49-52
[19] berkebalikan dengan versi yang menyebut Leran sebagai tanah perdikan dimana berdiri Dinasti Hibatallah, yang dihubungkan dengan inskipsi Fathimah binti Maymun bin Abdullah/ Hibatallah. Lihat, Uka Tjandrasasmita. 2009. Arkeologi Islam Nusantara. Jakarta: KPG., hlm. 16
[20] Claude Guillot dan Ludvik Kalus. Op.Cit., hlm. 31
[21] Ibid.
[22] Slamet Muljana. Op.Cit., hlm. 163
[23] Azyumardi Azra. 1995. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Melacak Akar-Akar Pembaruan Pemikiran Islam di Indonesia.Bandung: Mizan., hlm. 166-170
[24] Ibid., hlm. 189
[25] Ibid., hlm. 211
[26] Ibid., hlm. 31
[27] Slamet Muljana. Op.Cit., hlm. 170-173
[28] Ibid., bab kedua dan ketiga, hlm. 35-128
[29] Lihat, Ahmad Mansur Suryanegara. 2009. Api Sejarah. Bandung: Salamadani., hlm. 100-101

Makalah Halaqoh: Filsafat Manusia Indonesia

Filsafat Manusia Indonesia

Oleh: Arif Subekti; 29/02/2012-04:13 PM


A.    Mukaddimah
Alhamdulillah, segala puji hanya untuk Allah Yang Maha Menciptakan dan Yang Maha Menghimpun, semoga di awal bulan Rabi’ul Akhir yang indah ini, segenap umat muslim dianugerahi iman yang sempurna, keyakinan yang benar, lisan yang senantiasa menyebut asma-Nya, serta kalbu yang khusyu’. Shalawat dan salam, yang senantiasa menghiasi istighotsah-istighotsah, wirid ba’da maktubah, serta aneka ibadah; kiranya menjadi do’a sekaligus penanda kecintaan kita pada Rasulullah Muhammad SAW. Semoga tsawab barokahnya meliputi kita semua, keluarga, murabbi ruwhinaa, ahlul ma’had, serta jama’ah subuh sedunia. Allaahumma barrik ummata sayyidinaa Muhammad, fiy bukuwrihaa. Amin.
Pada sela kesibukan dan kekosongan yang gilir gumanti, alhamdulillah kami mendapat kesempatan  untuk mempresentasikan salah satu materi halaqoh yang berjudul Dasar Perumusan Filsafat Manusia Indonesia. Secara sepintas lalu, dapat diketahui bahwa pembahasan kali ini termasuk pembahasan filsafat, yakni ilmu tentang mengetahui kebenaran yang hakiki. Pengetahuan ini sangat penting, mengingat mempelajari filsafat manusia, dapat membantu setiap orang yang mempelajarinya untuk lebih mengenali diri. Secara mudahnya, mengetahui dan memahami filsafat manusia Indonesia, diharapkan mampu menambah kecerdasan individual dan kesalehan sosial dalam melakukan analisis terhadap segala gejala dan kejadian di masyarakat.
Merupakan hal yang lumrah, wajar, dan niscaya; bagi saya, anda, dan mereka; yang merasa diri sebagai manusia Indonesia, untuk mengerti (enklaren) serta memahami (verstehen) filsafat manusia Indonesia, sesuai dengan konsensus para pendiri negara (founding fathers) yang terumuskan dalam Pancasila. Filsafat manusia atau antropologi filsafati merupakan bagian integral dalam sistem filsafat, yang secara spesifik menyoroti hakikat atau esensi manusia. Frasa ini kemudian disifati dengan kata “indonesia”, suatu kesatuan politik dalam sejarah panjang yang kemudian membentuk frasa baru, “bangsa Indonesia” secara majemuk, dan “manusia Indonesia” secara individu.
Akan halnya menelisik dasar perumusan filsafat manusia indonesia, yang dimensi-dimensinya dalam risalah ini dikaji secara diakronis dan sinkronis. Sebagai langkah awal, pendedahan definisi mengenai filsafat manusia dan Indonesia, baik secara operasional, maupun leksikal-gramatikal sesuai dengan semangat zaman (zeit geist) saat ini, kami paparkan. Selanjutnya, perihal dasar perumusan filsafat manusia Indonesia, berikut stereotipe manusia Indonesia dari beberapa ahli, kami jajarkan sehingga hakikat manusia Indonesia menjadi lebih kentara. Pada ujung risalah, kami cantumkan beberapa simpulan (sementara) yang diharapkan tidak menjumudkan kreativitas berpikir. Semoga tulisan ringkas ini bermanfaat. Amin

B.     Pembahasan
1.      Definisi
a.      Filsafat Manusia
Filsafat manusia adalah suatu cabang dari filsafat yang mengupas tentang arti menjadi manusia, maksudnya bahwa filsafat manusia ialah usaha secara sistematis untuk mengetahui dan memahami hakekat manusia yang berdiri sendiri dalam dunianya, serta mempelajari fungsi keberadaannya di dunia.[1] Falsafah Jawa mengenal istilah kawruh sangkan paraning dumadi nira (the origin and the destination of all creatures), yang terjemahan bebasnya berarti mengetahui asal kejadian (sangkan) dan tujuan dijadikan (paran); kemudian kesimpulan retoris ini berhulu dan bermuara pada Tuhan Yang Esa, Allah Subhanhu Wa Ta’ala (inna liLlahi wa inna ilaihi raaji’uwn), atau dalam budaya Jawa, Gusti Kang Persipatan Tan Kena Kinaya Ngapa, yakni awal segala ihwal, absolut, serta Tan Kena Winirasa, yakni tak dapat direka-reka.[2]
Filsafat manusia termasuk dalam kajian ontologi atau metafisika, dimana objek materialnya adalah sama dengan ilmu-ilmu tentang manusia (misalnya antropologi dan psikologi) lainnya, yakni gejala manusia. Baik filsafat manusia maupun ilmu-ilmu tentang manusia, pada dasarnya bertujuan untuk menyelidiki, menginterpretasi, dan memahami gejala-gejala atau ekspresi-ekspresi manusia.[3]
Kemudian, beberapa filsuf menggolongkan dua aspek dalam memahami hakekat manusia, yaitu: aspek ekstensif, meliputi pembahasan hakekat manusia yang berhubungan dengan sifat, gejala, kegiatan, dan segala sesuatu yang meyangkut pada segala bidang. Kemudian aspek intensif, meliputi pembahasan yang mengarah pada intisari dari manusia.[4]
b.      Manusia Indonesia
Adalah Adolf Bastian, seorang dokter dan sekaligus etnolog kebangsaan Jerman, yang memopulerkan nama Indonesia ketika menerbitkan laporan perjalanan dan penelitiannya di Berlin, yang diterbitkan dalam karya 5 jilid (1864 – 1894) dengan judul Indonesien, oder die Inseln des malaysischen Archipels (Indonesia, atau Pulau-Pulau dari Kepulauan Malaya).
Secara literal, kata Indonesia berasal dari kata latin: indus/ endos yang berarti Hindia dan kata nesos yang berarti pulau, (nesioi-jamak berarti pulau-pulau). Dengan demikian, kata Indonesia berarti pulau-pulau Hindia. Indonesia dikenal pula dengan sebutan Nusantara. Kata Nusantara berasal dari bahasa Jawa Kuno, yaitu nusa yang berarti pulau dan antara yang berarti hubungan. Jadi, Nusantara berarti rangkaian pulau-pulau.
Indonesia dalam pengertian geografis berarti bagian bumi yang membentang dari 95°-141° Bujur Timur, dan 6° Lintang Utara sampai 11 Lintang Selatan. Sedangkan Indonesia dalam arti bangsa yang secara politik, ekonomi, dan sosial budaya dalam wilayah tersebut. Negara ini sendiri merupakan kesatuan bekas jajahan Kerajaan Belanda, hingga tahun 1945 menurut versi Indonesia atau tahun 1949 menurut versi Belanda. Sehingga manusia Indonesia dalam pembahasan ini, ialah penghuni bagian bumi Indonesia, yang terdiri atas lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa, adat istiadat, agama, serta budaya.
c.       Filsafat Manusia Indonesia
Batasan atau definisi operasional mengenai filsafat manusia Indonesia, dalam tulisan ini ialah usaha mengetahui dan memahami esensi, hakikat, atau struktur dasar manusia penghuni wilayah negara Indonesia, yang meliputi aspek-aspek morfologis manusia Indonesia, dimensi-dimensi budayanya, serta nilai-nilai yang berlaku dalam wilayah negara Indonesia.
Namun demikian, tulisan ini hanya memaparkan secara permukaan saja mengenai asal-usul persebaran manusia Indonesia, jenis ras, macam suku bangsa, serta nilai adat istiadat dari tiap-tiap lingkar budaya (kultuurkreis) manusia penghuni pulau Nusantara. Tulisan ini lebih mengkaji pada aspek mental manusia Indonesia, dalam hubungannya dengan dasar perumusan filsafat manusia Indonesia. Topik kajian mental inilah yang hendak dipikirkan, diketahui, dipahami, dan diungkap maknanya dalam kajian filsafat manusia.
2.      Manusia Indonesia Secara Diakronik
Metode diakronik, adalah core concept milik kajian linguistik yang digagas oleh Ferdinand de Saussure (1857-1913), namun kemudian banyak dipakai dalam kajian ilmu sosial, khususnya bidang sejarah. Diakronik, berarti melewati waktu, artinya menerangkan suatu gejala secara kronologis sesuai pakem penelitian historis.
Secara diakronik, manusia Indonesia sebelum disatukan oleh sejarah yang sama, yakni pengalaman dijajah oleh bangsa lain, merupakan bangsa merdeka dan unggul, dengan kisah golden age-nya  pada masa Sriwijaya dan Majapahit. Selain itu, Nusantara yang terletak pada wilayah yang strategis, merupakan daerah silang budaya. Berdasarkan latar belakang sejarah, diasumsikan bahwa pada tahun 2500 SM-1500 SM, terdapat migrasi orang Yunan (Mongol) ke Nusantara. Kemudian, penduduk asli yang terdiri dari ras Melanesoid (negrito/ negro kecil) yang terdesak, bergeser ke timur. Hal inilah yang menurut teori, menjadikan suku bangsa Indonesia di bagian timur sekarang lebih dominan pigmen kulit hitam daripada suku bangsa di wilayah Indonesia bagian barat. Bangsa Yunan sendiri, yang bermigrasi ke Nusantara dalam dua gelombang, membentuk dua ras manusia Indonesia saat ini, yakni Deutero Melayu (Melayu Tua) dan Proto Melayu (Melayu Muda).[5]
Harry Julien Benda, menyatakan bahwa penduduk Nusantara yang terdiri dari tiga sub-ras ini mengalami proses pembudayaan dari beberapa bangsa asing, yang diistilahkan dengan Indianized (di-India-kan), Sinicized (di-Cina-kan), Hispanized (di-Spanyol-kan), dan Arabicized (di-Arab-kan). Kendati demikian, bukan berarti masyarakat penghuni Nusantara kehilangan akar budayanya, setelah mengalami proses silang budaya tersebut. Terdapat kearifan lokal (local genius) yang merupakan budaya unggul bangsa Nusantara, sebagaimana dirumuskan oleh Brandes dalam Ten Point Basic Cultural Traits[6].
Setelah disubordinasikan di bawah kungkungan penjajahan negara-negara asing (dimitoskan dan diajarkan bahwa penjajaha berlangsung selama 3,5 abad), Indonesia lantas memproklamirkan kemerdekaannya, dengan menyatakan diri sebagai Bangsa Indonesia, yakni masyarakat penghuni daerah bekas jajahan Kerajaan Belanda. Secara ideologis, ragam suku bangsa, budaya, dan agama tersebut disatukan dalam sebuah landasan ideologis bernama Pancasila, sebagai nilai-nilai yang ideal dan menjadi pralambang filsafat manusia Indonesia yang dicita-citakan (das sollen).
3.      Manusia Indonesia Secara Sinkronik
Sebagaimana metode diakronik, metode sinkronik juga core concept kajian linguistik Saussurian yang banyak dipakai dalam kajian ilmu sosial, seperti bidang sosiologi, antropologi, psikologi, atau ekonomi. Sinkronik, berarti bersama waktu (syn: bersama, chronos: waktu), maksudnya menerangkan suatu gejala dengan melihat keruangan tertentu, dalam keterkaitan mozaik-mozaik peristiwanya.
Secara sinkronik, gambaran manusia Indonesia terangkum dalam beberapa stereotype yang mendeskripsikan manusia Indonesia, baik dalam aspek positif maupun negatifnya. Menurut stereotype kolonial Belanda, beberapa gambaran psikokultural negatif dan positif bangsa Indonesia digambarkan sebagai berikut:
No.
Aspek Negatif
Aspek Positif
1.
Amat khianat
Dapat dipercaya
2.
Tidak mau memegang teguh perjanjian
Royal
3.
Amat suka membunuh
Lembut
4.
Mau berperang saja
Baik
5.
Tidak jujur
Hormat
6.
Seperti binatang, beestachtig, maha kejam
Tenang
7.
Kurang sanggup melakukan kerja otak yang tinggi (hooge geestarbeid); dan
Ramah pada tamu; dan
8.
Sedang-sedang saja (middlematig) dalam beragama, gairah kerja, kejujuran, rasa kasihan, dan rasa terima kasihnya
Tidak suka memikirkan yang susah-susah[7]
Adalah menarik membandingkan kedua bentuk ciri-ciri mental orang Indonesia di atas. Di satu pihak, mereka dikatakan “amat khianat”, tapi di pihak lain, juga dikatakan “dapat dipercaya”. Di satu pihak dikatakan “maha kejam, seperti binatang”, tetapi di pihak lain, juga dikatakan “lembut”. Manakah yang benar, sulit untuk menyimpulkannya; atau orang Indonesia itu memang tidak konsisten keadaan mentalitasnya, kadang-kadang jahat (tindakan amok dan budaya preman), kadang-kadang lembut (ramah tamah), kadang-kadang tidak bisa dipercaya (koruptor), kadang-kadang jujur (patuh pada guru, agamis), dan seterusnya.
Dari sudut sosiologis-antropologis, deskripsi di atas dapat dikatakan sebagai stereotype dari orang Belanda terhadap orang Indonesia. Artinya di kalangan orang Belanda, terdapat semacam citra umum tentang orang Indonesia. Citra yang disebut dengan istilah stereotype tersebut adalah semacam penarikan garis umum tentang ciri-ciri mental orang Indonesia yang belum dibuktikan kebenarannya secara ilmiah, namun sudah terlanjur diterapkan terhadap setiap individu orang Indonesia.
Sebagai perbandingan, di Amerika, ada semacam stereotype di kalangan orang kulit putih terhadap orang kulit hitam, bahwa orang negro itu dianggap “kotor, berbakat musik, tapi sangat emosional, dan berpola pikir sederhana”. Jadi dengan kata lain, secara sosiologis-antropologis, sukar kita menerima kebenaran ciri-ciri orang Indonesia seperti diungkapkan di atas. Namun sebagai bahan kajian merumuskan filsafat manusia Indonesia, deskripsi di atas cukup berharga.
Sementara, seorang jurnalis senior Indonesia, Mochtar Lubis, membangun stereotype sendiri terhadap orang Indonesia, yakni:
No.
Stereotype Negatif
Stereotype Positif
1.
Munafik dan hipokrit, Asal Bapak Senang (iklim feodalisme), suka menggerutu, tidak berani terbuka
Punya rasa humor yang tinggi
2.
Segan dan enggan bertanggungjawab atas perbuatannya, keputusannya, kelakuannya, dan sebagainya
Kemesraan hubungan antar manusia
3.
Pegawai Negeri adalah idaman, berperilaku feodal, birokrasi yang kompleks
Berhati lembut dan suka damai
4.
Percaya pada takhayul, meskipun sudah berpendidikan tinggi
Sabar
5.
Konsumtif, boros, tidak suka menabung, tidak hemat
Kasih ibu dan bapak terhadap anak-anaknya
6.
Cemburu dan dengki terhadap orang lain yang lebih kaya
Otaknya cukup encer, cepat belajar[8]
Citra umum atau stereotype di atas merupakan sedikit gambaran kondisi riil masyarakat Indonesia (das sein), dalam horison yang melintasi suku bangsa di seluruh Indonesia. Karena, harus disadari, bahwa pengamalan Pancasila (das sollen) sebagaimana yang dirumuskan dan dicita-citakan oleh para pendiri bangsa, masih sulit diamalkan. Tidak mungkin, seorang pemimpin bangsa pengamal Pancasila, dengan prinsip-prinsip Ketuhanan, Kemanusiaan dan Keadilan Sosial, sampai hati melakukan tindak pidana korupsi. 
    
     Dasar Merumuskan Filsafat Manusia Indonesia
Pemaparan mengenai manusia Indonesia, baik secara diakronis (historis) maupun secara sinkronis (sosiologis-antropologis-psikologis) di atas kiranya dapat mengantarkan pemahaman berpikir kita untuk menentukan dasar-dasar perumusan filsafat manusia Indonesia. Beberapa simpul gagasan yang dapat dirangkai perihal dasar-dasar perumusan filsafat manusia Indonesia antara lain ialah:
a.    Realitas kedirian (raison d’etre) manusia Indonesia, yang majemuk, multikultural, dengan riak-riak ide dan gagasannya masing-masing, sesuai dengan kondisi lingkungan dan budaya dimana mereka tinggal.
b.    Ragam agama dan kepercayaan yang dianut, diyakini, dan dilaksanakan oleh seluruh manusia Indonesia. Agama ialah jalan hidup (way of life), sekaligus standar moral, nilai, akhlak, juga pembeda antara yang haq dan yang bathil, bagi masing-masing umat pemeluk agama tertentu yang dijamin oleh Undang-Undang.
c.    Cita-cita umum rakyat Indonesia, untuk mencapai kesejahteraan bersama, kedamaian hidup bersama, serta berperan dalam mewujudkan kedamaian dunia; yang dibenturkan dengan kenyataan belum meratanya kesejahteraan, jaminan keamanan, hak asasi, supremasi hukum, dan sebagainya.
d.   Mentalitas dan perikehidupan bangsa Indonesia yang semakin beragam, dan cenderung berada dalam krisis, sebagaimana tergambarkan dalam stereotype-stereotype di atas.

C.    Penutup
Dasar merumuskan filsafat manusia Indonesia, secara diakronik dan sinkronik ialah dengan memperhatikan dan mempertimbangkan aspek-aspek tertentu, yakni: 1) realitas kedirian (raison d’etre) manusia Indonesia, yang majemuk, atau multikultural; 2) ragam agama dan kepercayaan yang dianut, diyakini, dan dilaksanakan oleh seluruh manusia Indonesia; 3) cita-cita umum rakyat Indonesia, untuk mencapai kesejahteraan bersama; dan 4) mentalitas dan perikehidupan bangsa Indonesia yang semakin beragam.

D.    Daftar Pustaka

Abidin, Zainal. 2006. Filsafat Manusia, Memahami Manusia Melalui Filsafat. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Agung, Dewa Agung Gde. 2003. Analisis Awal Terhadap Pengaruh India Di Indonesia., dalam Sejarah Dan Budaya, Dari Masa Kuno Sampai Kontemporer. Malang: UM Press.
Hadi, Nur. 2003. Fenomena Akulturasi Dalam Sejarah Kebudayaan Indonesia., dalam Sejarah Dan Budaya, Dari Masa Kuno Sampai Kontemporer. Malang: UM Press.
Jalaluddin. 2003. Teologi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Lubis, Mochtar. 1977. Manusia Indonesia. Jakarta: Inti Idayu Press.
Marzali, Amri. 2005. Antropologi dan Pembangunan. Jakarta Kencana.
Nata, Abuddin. 1997. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
Poedjawijatna, I.R.. 1983. Manusia Dengan Alamnya, Filsafat Manusia. Jakarta: Bina Aksara.
Ro’uf, Abdul Mukti. 2008. Manusia Super. Pontianak: STAIN Pontianak Press.
Sunoto. 1982. Mengenal Filsafat Pancasila. Yogyakarta: Hanindita
---------. 1985. Menuju Filsafat Indonesia. Yogyakarta: Hanindita
 


[1] I.R. Poedjawijatna. 1983. Manusia Dengan Alamnya, Filsafat Manusia. Jakarta: Bina Aksara., hal. 56
[2] Ibid., hal 51-52
[3] Zainal Abidin. 2006. Filsafat Manusia, Memahami Manusia Melalui Filsafat. Bandung: Remaja Rosdakarya., hal. 4-5
[4] Ibid., hal. 22
[5] Dewa Agung Gde Agung. 2003. Analisis Awal Terhadap Pengaruh India Di Indonesia., dalam Sejarah Dan Budaya, Dari Masa Kuno Sampai Kontemporer. Malang: UM Press., hal. 84-85
[6] Sepuluh macam kemampuan asli Indonesia ini ialah: 1) Wayang, 2) Gamelan, 3) Tembang (metrum), 4) Seni Batik, 5) Pengerjaan Logam, 6) Sistem Mata Uang, 7) Pelayaran, 8) Astronomi, 9) Irigasi, dan 10) Sistem Pemerintahan. Lihat, Nur Hadi. 2003. Fenomena Akulturasi Dalam Sejarah Kebudayaan Indonesia., dalam Ibid., hal. 114.
[7] Mochtar Lubis. 1977. Manusia Indonesia. Jakarta: Inti Idayu Press
[8] Ibid., hal 24-28
[9] Aisyah Bintu Syati. 1999. Manusia Dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya., hal. 2
[10] Abdul Mukti Ro’uf. 2008. Manusia Super. Pontianak: STAIN Pontianak Press., hal. 3
[11] Jalaluddin. 2003. Teologi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada., hal. 19
[12] Quraish Shihab. 1996. Wawasan Al-Qur’an. Bandung: Mizan., hal. 279
[13] Abuddin Nata. 1997. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu., hal. 31
[14] Ibid., hal. 29
[15] Jalaluddin. Op.Cit., hal. 23
[16] Ibid., hal. 16
[17] Quraish Shihab. Op.Cit., hal. 278
[18] Abdul Mukti Ro’uf. Op.Cit., hal. 39
[19] Jalaluddin. Op.Cit., hal. 23
[20] Abdul Mukti Rouf. Op.Cit., hal 24
[21] Jalaluddin. Op.Cit., hal 28
[22] Ibid.
[23] Aisyah Bintu Syati. 1999. Manusia Dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya., hal. 5
[24] Jalaluddin. Op.Cit., hal. 29
[25] Ibid.
[26] Ibid., hal 31