Senin, 11 Juli 2011

Narcisisme Intelektual

Narcisisme Intelektual
Oleh: Arif Subekti; 27/11/2007 - 2:37 AM

“Kenapa ya, sejarah tidak masuk UAN?”, tanya Junot pada kompatriotnya, Sarlimbung. “Sebab, sejarah yang diajarkan dari tingkat SD ndak ada yang bener, smuanya akal-akalannya pemerintah”. Jawab Sarlimbung. “Coba, kalo ntar dimasukkan UAN, pemerintah takut bualan mereka terbongkar, sebab siswa akan belajar sejarah dengan rajin, sebagaimana kerajinan mereka belajar bahasa inggris atau matemateka”.

Penggalan diskusi sepasang mahasiswa sejarah kala ngopi itu --lepas dari benar-tidaknya-- menyeret penalaran penulis pada kegundahan lawas, perihal ketidakpopuleran sejarah sebagai ilmu. Tidak sedikit orang mencibir; jurusan sejarah ialah jurusan buangan, yang tidak sanggup menghadirkan kesejahteraan materi (prospektif), sebagaimana terbukti dalam pemotongan jam pelajaran sejarah di beberapa tingkat pendidikan. Sehingga, untuk membesarkan hati para mahasiswa baru jurusan sejarah; para dosen serta mahasiswa lama, acapkali memaparkan arti penting sejarah, kaitannya dengan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa-negara. Bahwa dari aras sejarah, manusia mampu belajar menjadi bijak; makanya sejarah itu penting (das sollen); namun, kesadaran sejarah bangsa yang sedemikian tipisnya, menempatkan sejarah pada posisi yang tidak semestinya (das sein). Nah, yang hendak dibahas kali ini, ialah ekses “narcisisme intelektual” atas usaha penumbuhkembangan gengsi sejarah tadi, bahkan cabang-cabang ilmu lain, dilihat dari jejaring yang menautkannya.
Wacana ini, sekali lagi memang usang lagi klasik; namun bukankah dari titik inilah pencerapan sejarah dimulai, supaya kebijaksanaan bisa tergapai.

Mahasiswa, Cendekiawan, dan Sarjana
Mahasiswa, (sedikit banyak) dapat digolongkan kedalam golongan cendekiawan, yakni kaum yang menurut Julien Benda ialah orang-orang yang kegiatan hakikinya bukan mengejar tujuan-tujuan praktis. Sebagai kelompok borjuis kecil (petit-bourgeoisie), cendekiawan adalah orang yang mencari kegembiaraan dalam lapangan ilmu pengetahuan, kesenian, atau teka-teki metafisika; singkatnya dalam hal-hal yang tidak melulu berorientasi keuntungan materi, dan dengan demikian dalam arti tertentu bisa mengatakan bahwa, “kerajaanku bukanlah di dunia ini”.1 Sementara, setiap masyarakat ada kaum cendekiawannya, masyarakat yang primitif sekalipun memiliki golongan cendekiawan, atau sekurang-kurangnya proto-cendekiawan.2 Dalam masyarakat Jawa, resi (terkadang disebut wiku) merupakan penghuni lapisan intelektual, yang peran khasnya adalah meramalkan datangnya kebobrokan serta memberi peringatan bahwa kerajaan akan runtuh. Para resi biasanya hidup di area terpencil, untuk menumbuhkan kemampuan ngaweruhi sadurunge winarah (mengetahui apa yang bakal terjadi), mempelajari rahasia jagad raya, dan mempersiapkan diri menghadapi maut. Demikian pula, peran Abu Nawas sebagai penasehat Sultan Harun Ar-Rasyid, atau Kong Ming dalam mendampingi Jenderal Liu Pei.
Sedangkan istilah sarjana, dari analisis sosiolinguistik, diketahui telah mengalami penyempitan makna. Dahulu, sarjana ialah orang yang memunyai pengetahuan, yang umumnya memiliki kompetensi atas beberapa disiplin ilmu. Rene Descartes (1596-1650), selain merupakan filosof terkemuka, ia juga ahli dalam matematika dan fisika. Belum lagi talenta Aristoteles (384 SM-322 SM), yang menulis masalah astronomi, biologi, geografi, fisika, psikologi; juga tentang ekonomi, teologi, politik, logika, keindahan, puisi, etika hingga metafisika. Sementara sekarang, sarjana berarti kaum terpelajar produk suatu institusi pendidikan tinggi; yang umumnya hanya memiliki satu kompetensi keilmuan. Sarjana sejarah, yang pada saat masih mahasiswa hanya belajar sejarah an sich, tanpa dihinggapi hasrat membuka wawasan keilmuan yang lain (semoga asumsi ini salah); niscaya merupakan sejarawan artifisial belaka, yang jelas akan kebingungan memahami konsep dilatasi waktu-nya Einstein misalnya, atau teori evolusi yang kontroversial namun masih terpakai itu.

Intelektual yang Narcis
Hampir segala sesuatu di bawah kolong langit ini mengandung sisi baik juga sisi buruk (oposisi biner), termasuk tradisi spesialisasi keilmuan dalam ranah pendidikan. Muncul pada akhir abad ke-19, spesialisasi pendidikan berupa kelas IPA, IPS, dan Bahasa di SMU, menjamurnya sekolah-sekolah kejuruan, hingga warna-warni jurusan di Perguruan Tinggi; diyakini sanggup mengatasi kebutuhan umat manusia akan SDM yang profesional serta ditunjang dengan keahlian dalam bidang tertentu. Tetapi masalah segera hadir; tentang cara mendekatkan ilmu-ilmu sosial dan ilmu eksakta, yang juga dialami berbagai negara maju dan berekembang.3 Di tanah air kita, ada asumsi murid-murid berbakat dimasukkan IPA sedangkan yang dinilai kurang pandai disapukan ke arah IPS dan Bahasa; eksponen kelas IPA bisa pindah IPS atau Bahasa, sementara anak IPS-Bahasa dinilai tidak layak masuk kasta IPA.4 Padahal, hal ini lebih dari sekedar masalah bakat, faktor minat atau selera juga ikut andil; sebab murid yang cerdas dapat menjadi unggul entah dalam bidang eksakta, sastra, entah sosial-budaya.
Tradisi para birokrat pendidikan yang kurang terpuji tersebut; berimbas pada aspek mentalitas pelajar; yakni yang dinamakan narcisisme intelektual. Ialah ketidakdewasaan intelektual yang seringkali terdapat pada golongan profesional dan spesialis bidang pengetahuan tertentu. Mereka ini sebegitu terpukau dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, sehingga kurang terbuka (sekaligus membuka) terhadap pandangan-pandangan lain. Sebagaimana diamsalkan di atas; sejarawan yang entah karena kemahasibukannya akan tugas kuliah, entah sebab kemalasan luar biasa untuk meluangkan sekerat waktunya pada wawasan lain, sehingga kurang begitu tertarik pada wawasan non-sejarah.
Sementara identitas ilmiah terlalu ditonjolkan dan diandalkan, yang melahirkan ketertutupan dan menyempitkan pandangan; seperti simbol-simbol narcis yang selalu terlihat kala PKPT, atau ungkapan history uber allez di sebagian kalangan kawula sejarah, lengkap dengan almamater jas merah-nya. Rupanya, keasyikan terhadap hal-hal yang mendetail, bisa menghambat proses penilaian yang bijaksana; dan virus ini menjangkiti semuanya, baik gugus sosial maupun eksakta.
Adapun jawaban atas stereotip pejor (anggapan menghina) eksponen masyarakat; bahwa sejarah itu jurusan yang tidak jelas orientasi kerjanya, yang lantas disikapi dengan indoktrinasi perihal betapa pentingnya sejarah; kiranya berpotensi membangun hubris (semacam kesombongan) atas nama intelektualitas. Bahwa right or wrong, history is right, istoria numero uno. Padahal, tidak dapat disangkal, passing grade jurusan sejarah UM rendah, bahwa sejarah tidak masuk materi UAN, jam pelajarannya disunat, dan bahwa sebagian mahasiswa sejarah kurang PeDe menyatakan identitas kejuruannya. Dan, inilah sementara pekerjaan rumah kawula sejarah yang musti segera beres; sebagai tanggungjawab moral serta akademik, pada manusia lain, masyarakat, alam, dan jagad raya, juga pada Tuhan. Sehingga, Bung Junot tidak perlu mengulang lagi pertanyaannya. Merdeka..


Endnote
1.Lih. S. Tasrif. Julien Benda dan Pengkhianatan Kaum Intelektual. dalam Dick Hartoko (Ed). 1987. Golongan Cendekiawan Mereka yang Berumah di Angin sebuah Bunga Rampai. Jakarta: Kesaint Blanc., hal. 112
2.Edward Shils. Kaum Cendekiawan. Dalam Dick Hartoko (Ed). Ibid., hal. 4
3.Ibid., hal. 11
4.Eko Prasetyo. 2004. Orang Miskin Dilarang Sekolah. Yogyakarta: Resist Book., hal. 55

Tidak ada komentar:

Posting Komentar